Posted in Segores Pena

Prolog: Rinduku pada Hujan

rain_by_BlackMagicW

I wanna feel the rain again
I wanna feel the water on my skin
And let it all just wash away 
In a downpour
I wanna feel the rain

[Downpour by Backstreet Boys]

Setahun sudah kemarau melanda negeri. Tak ada satu tetes pun air yang turun dari langit. Tak ada tanda-tanda pula, musim akan berganti. Angin yang berhembus tak pernah membawa kabar gembira dari langit. Hanya ada hembusan yang terasa kering dan hampa.

Akan tetapi, langit di atas sana selalu terlihat indah, biru dan bersih. Hanya ada awan-awan tipis yang menghiasi. Mereka tak berani menghalangi gagahnya sang raja siang di atas singgasananya. Hingga ia pun bersinar dengan teriknya, menebarkan panas kepada siapa pun yang tinggal di atas bumi, membakar apa pun yang disorotnya tanpa ada yang bisa menghentikannya, kecuali Tuhan. Burung-burung berterbangan, mencari mangsa dengan sorot matanya yang tajam. Jika malam tiba, kerlap-kerlip bintang akan menjadi primadona di langit yang gelap gulita. Mereka tetap setia menemani sang bulan yang bercahaya paling terang menggantikan sang matahari yang tertidur di setengah bagian bumi. Pemandangan langit memang begitu indah dan memukau. Sampai-sampai aku berharap agar Tuhan bisa meminjamkan satu pasang sayap agar aku bisa terbang dan menikmati indahnya pemandangan langit, menembus batasnya hingga dapat kugenggam satu kilauan bintang untuk menemani hari-hariku yang gelap. Lagipula, satu kilau cahaya bintang tak akan membuat sang bulan berdiri kesepian di sana. Ya, langit memang begitu indah.  Itulah mengapa malaikat menjadi penghuni langit, karena mereka adalah makhluk yang indah dan setia, tidak seperti manusia yang terus berlumuran dosa tetap tinggal di bumi.

Keindahan langit di atas sana memang pernah menjebakku dalam fantasi panjang yang tak ada akhir. Harapan dan impianku akan menggapai langit terlalu besar. Padahal aku tahu, aku tak akan pernah bisa menggapainya setinggi apa pun tebing yang akan kupanjat. Hingga aku menyadari sesuatu. Sesuatu yang melupakanku akan ketidakhadirannya. Bahwa aku dilanda kemarau panjang, kekeringan yang seolah tiada akhir. Aku membutuhkan kehadirannya untuk mengobati rasa dahagaku yang panjang. Hujan! Ya, hujan! Aku membutuhkannya. Betapa aku sangat merindukan kehadirannya di sisiku. Bagaimana dia akan membasahi bumi yang sudah kering kerontang, kembali memberikan harapan akan kehidupan makhluk-makhluk di dunia. Ia juga yang akan menyegarkan jiwa dan hatiku yang kini kering dan hampa.

Oh hujan, kapankah kau akan datang? Kapan kau akan mengakhiri penantian panjang atas kemarau yang melanda ini? Sungguh aku membutuhkanmu, sungguh aku merindukanmu.

Advertisements

Author:

a walker of the long journey seeking for the great last place in the eternal life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s