Posted in Opini

Saatnya Pemuda Bangkit Menuju Kebangkitan Hakiki

Pemuda dan Realita Sekarang

Pemuda adalah sosok yang menjadi penentu masa depan bangsa. Pemuda adalah masa produktif seorang manusia yang memiliki semangat hidup tinggi dan pemikiran yang cerdas. WHO mengkategorikan pemuda berusia kisaran antara umur 15 tahun hingga 24 tahun, begitu pula definisi yang diberikan oleh World Bank dan United Nations General Assembly. Pemuda menjadi harapan dan tumpuan bangsa, karena pada akhirnya mereka yang akan membawa bangsa ini menuju bangsa yang maju atau justru sebaliknya. Pemuda adalah pilar negara dimana mereka akan menjadi corak penentu bangsa. Dengan semagat yang gigih, pemikiran yang cerdas, dan kritis, para pemuda sangat diharapkan oleh masyarakat agar membawa perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Namun, bagaimana dengan realita pemuda sekarang?

Pemuda saat ini identik dengan hura-hura, hedonisme, pergaulan bebas, individualis, dan sangat pragmatis, tidak lagi peka terhadap keadaan. Hanya sedikit suara pemuda yang kritis dan berani. Padahal bangsa ini telah berada dalam jurang kehancurannya. Dimana peran pemuda saat ini ketika masyarakat membutuhkannya? Pemuda saat ini tak lagi memiliki idealisme yang jelas. Mereka cenderung terbawa oleh gaya hidup bebas yang menggiurkan. Idealisme yang mereka punya luntur begitu saja ketika disodorkan berbagai kesenangan dan kenikmatan duniawi. Pragmatisme melanda hampir seluruh pemuda bangsa ini, mereka tidak tahu bagaimana cara mengatasi persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, bahkan sama sekali tidak tahu dengan masalah yang terjadi. Suara kritis mereka hilang ditengah gelombang hiburan yang menghinoptis pikiran dan jiwa. Materialisme diagungkan demi memenuhi kenikmatan sesaat itu. Sebagian yang lain, yang tertekan atas himpitan ekonomi dalam pendidikan, lebih memilih untuk fokus menyelesaikan studi agar setelah lulus nanti dapat segera menukarkan tenaga dengan uang yang sudah terbuang demi pendidikan. Itukah pemuda harapan bangsa? Yang hanya memikirkan kesenangannya saja, atau yang terus mengejar materi demi kelangsungan hidupnya sendiri? Mau dibawa kemana masa depan bangsa ini, jika pemudanya saja tidak peduli dengan nasib bangsanya sendiri. Pemuda tak lagi bisa diharapkan, kecuali dengan mengubah mind-set dan jalan hidupnya.

Pemuda, Dibajak oleh Barat

Pemuda selalu diberi julukan sebagai Agen Perubahan, karena dunia ini selalu diubah oleh tangan-tangan pemuda yang cerdas dan kritis. Peran pemuda adalah mengontrol jalannya kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah agar masyarakat dapat terpenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, apa yang terjadi jika para pemuda sibuk dalam antrian panjang demi mendapatkan tiket konser hiburan atau lolos audisi ajang pencarian bakat? Apakah potensi mereka dapat mengubah kondisi Indonesia ini menjadi lebih baik? Tentu tidak.

Globalisasi merupakan salah satu bentuk imperialisme modern saat ini yang dilakukan oleh Barat. Gaya hidup bebas, hura-hura, permisif, individualistik, dan materialistik menjadi acuannya. Asas sekulerisme benar-benar telah melepaskan jati diri pemuda yang seharusnya, jauh dari apa yang agama ajarkan. Sehingga kita banyak menemukan para pemuda yang rusak akidah dan moralnya, hancur gaya hidupnya, tak lagi kritis atau pun jengah dengan kondisi bangsa ini yang sudah carut-marut. Pemuda hanya memikirkan nasibnya sendiri untuk mengokohkan eksistensi dirinya di ajang-ajang pencarian bakat yang pada akhirnya menguntungkan para pemilik bisnis komersil. Beginikah peran pemuda dalam memajukan bangsa?

Peran strategis mereka sebagai Agent of Change hanya isapan jempol belaka. Selama pemuda masih berpikir secara pragmatis dan tanpa integritas yang jelas, perubahan yang akan dihasilkan hanyalah perubahan semu yang menipu masyarakat, tak akan jauh lebih baik dari kondisi yang ada sekarang, seperti lingkaran setan yang terus berputar. Peran mereka sebagai penerus masa depan bangsa yang akan mengisi posisi strategis pemerintahan hanya akan semakin jauh dari harapan, karena ternyata idealisme mereka bisa dibeli dengan uang dan kenikmatan pribadi.

Kegagalan Demokrasi dalam Mewujudkan Perubahan

Jika demokrasi dengan pilar-pilar kebebasannya dan asas sekulernya telah merusak kualitas generasi penerus bangsa, bisakah sistem ini mewujudkan perubahan yang lebih baik? Sejak kelahiran keduanya, demokrasi tak pernah tercatat bisa membawa perubahan besar bagi pengikut-pengikutnya. Meskipun dikenal sebagai negara superpower, Amerika sebagai induk demokrasi tak bisa membawa pemuda-pemudanya memiliki integritas yang jelas. Pemuda-pemuda mereka telah hancur oleh sistem yang mereka emban. Amerika dan negara Barat lainnya yang serupa, tidak memiliki generasi penerus bangsa yang berkualitas. Begitu pula dengan negara-negara pengekor demokrasi, terutama negeri-negeri Muslim yang mengaku setia dengan demokrasi. Sistem ini tidak pernah membawa perubahan yang nyata, justru sistem ini membawa kondisi bangsa semakin rusak dan bobrok. Sistem ini membuat masyarakat negeri Muslim lupa akan jati dirinya sebagai Muslim sejati yang hanya patuh dan taat pada aturan Allah saja bukan aturan manusia.

Demokrasi pada akhirnya hanya akan menghancurkan dirinya sendiri atas asas rusak yang diembannya. Karena pada hakikatnya, aturan ini diciptakan oleh manusia yang lemah, terbatas, dan dipenuhi oleh hawa nafsu yang mengekangnya, sehingga bukan perbaikan yang akan dihasilkan melainkan hanyalah kehancuran peradaban manusia, bagi siapapun yang masih setia memegangnya.

Islam, Arah Pergerakan Perubahan yang Hakiki

Jika kita perhatikan, bahwa ada beberapa pergerakan mahasiswa yang katanya ingin membawa perubahan bagi Indonesia. Pergerakan mahasiswa atau pemuda yang didirikan pun bermacam-macam, biasanya banyak bergerak sebagai organisasi ekstra (luar) kampus. Namun ada juga pergerakan mahasiswa yang didirikan untuk menjadi sayap partai politik agar ketika pemilu diadakan, suara pemuda-pemuda ini bisa membantu untuk memenangkannya. Namun, apakah pergerakan pemuda yang ada sudah memenuhi syarat untuk membawa perubahan yang hakiki?

Perubahan yang hakiki adalah perubahan yang menyeluruh. Perubahan ini menggebrak sistem rusak yang ada dan menggantinya dengan sistem baru yang terbukti lebih baik. Jika pemuda ingin membawa pergerakan tersebut kepada perubahan yang hakiki, maka pada dasarnya para pemuda haruslah mengubah mind-set mereka dan menggantinya dengan ide pergerakan yang shahih, sesuai dengan apa yang Rasulullah ajarkan kepada para pemuda Muslim  penakluk bangsa dalam menyebarkan Islam.

Islam haruslah dijadikan sebagai asas dan ide dalam membawa arah pergerakan ini menuju perubahan yang hakiki. Mengapa harus Islam? Pertama, Islam bersumber dari Sang Pencipta, Allah swt, yang tidak dapat diragukan lagi kebenarannya. Kedua, Rasulullah saw.  Menjadikan Islam sebagai asas pergerakannya dalam mengubah masyarakat jahiliyah menuju masyarakat Islami, artinya pemuda harus menggunakan metode dakwah Rasulullah dalam mengawal perubahan masyarakat yaitu dengan Dakwah Jamaah (kelompok). Ketiga, Islam telah menjadi sistem terbaik yang pernah ada dan berdiri selama tiga belas abad lamanya, karena Islam sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri. Untuk itulah, para pemuda sudah seharusnya menjadikan Islam sebagai arah pergerakan dalam mewujudkan perubahan yang hakiki, karena pemuda sangatlah dipercaya untuk membawa perubahan dan menggerakkan masyarakat menuju kebangkitan yang hakiki.

Advertisements

Author:

a walker of the long journey seeking for the great last place in the eternal life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s