Posted in Sastra

AKU

Jujur saja, sebagai seorang penulis (yang belum profesional), aku lebih senang menggunakan sudut pandang orang pertama dalam cerita fiksi yang aku buat. Penggunaan aku, saya, beta, I, atau apapun itu yang termasuk dalam sudut pandang orang  pertama, menurutku bisa lebih menjiwai cerita yang dibuat. Tentu saja, itu tergantung pada siapa pun termasuk diriku. Aku lebih nyaman dengan penggunaan sudut pandang orang pertama karena dengan begitu aku dapat lebih menjiwai dan menguasai karakter yang aku buat. Bahkan memang karakter diriku sendiri pun ikut masuk ke dalam karakter aku dalam cerita.

Sebagian besar penulis pemula memang lebih banyak menggunakan sudut pandang ini karena menurutku emosi sebagai penulis akan lebih mudah ditonjolkan pada karakter yang kita ciptakan sebagai tokoh utama. Akan tetapi tidak selalu menjamin bahwa karakter aku akan sesuai dengan karakter asli sang penulisnya. Lagipula, ketika kita menggunakan karakter aku, maka cerita itu akan terbatas pada sudut pandang si aku. Narator tak bisa semena-mena menempatkan karakter aku menjadi karakter yang serba tahu, meskipun sepertinya bisa saja jika kita tempatkan pada sebuah fiksi. Tetapi logikanya, secara realita, manusia pun pasti terbatas dengan apa yang diinderanya, dirasanya, dipikirkannya, ia tidak bisa menjadi manusia yang serba tahu akan semua hal. Begitu pula dengan karakter aku. Ia tidak bisa menggambarkan emosi karakter lainnya kecuali dengan perkiraan saja melalui apa yang diinderanya. Oleh karena itu, karakter aku memang sangat terbatas, seperti manusia biasa.

Berdasarkan pengalaman sendiri ketika menuliskan sebuah novel panjang sekitar hampir 300 halaman, aku merasa mudah menulis dengan karakter aku meski di dalam novel ada terdapat dua karakter aku dengan jalan cerita yang berbeda. Entahlah, mungkin karena dulu aku penulis pemula yang bersemangat untuk menyelesaikan novelku. Karakter aku yang kubuat pun memang mirip seperti diriku. Saat ini pun, aku masih menggunakan sudut pandang orang pertama untuk beberapa karya yang sedang dikerjakan, hanya saja aku masih mengalami banyak kendala untuk menyelesaikan. Selain itu, aku juga berusaha untuk membuat karakter aku yang jauh karakteristiknya dengan diriku. Oleh karena itu, sering pula aku menggunakan tokoh laki-laki dalam beberapa karakter aku.

Mungkin, disamping aku merasa nyaman dengan penggunaan sudut pandang orang pertama, faktor lainnya aku memang terbatas akan banyak hal, sehingga aku lebih memilih menjadi aku, dibandingkan dengan narator yang serba tahu. Mungkin suatu hari nanti, aku pun akan mencoba sudut pandang orang ketiga, sehingga bisa kita cermati bagaimana karakter-karakter lainnya ikut dibangun, apakah netral atau tidak. Yang jelas, jika kita membuat karakter aku, cerita akan dibangun secara subjektif, itu salah satu kekurangannya. Kita sebagai pembaca tidak akan bisa menilai dari perspektif lainnya, hanya aku saja yang berkuasa mengarahkan pembacanya karena ialah naratornya.

Itulah aku.

Advertisements

Author:

a walker of the long journey seeking for the great last place in the eternal life

2 thoughts on “AKU

  1. Aku juga suka ‘aku’ 😀
    Gampang buat si karakter jadi egosentris dan subjektif. Cerita juga jadi timpang berpihaknya ke si karakter utama ini.
    Lucunya, pas nulis, ‘aku’ itu maunya selalu jadi ‘hero’, tapi kalau dibaca dan dibaca lagi, dia malah jadi ‘hero gagal’ dan simpati aku sendiri jadi ke tokoh lain selain dia. Hahahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s