Posted in Catatan, Miscellaneous

Pengalaman Menulis di Bulan Narasi

Oke, saatnya sedikit curhat tentang pengalaman pribadi. Sedikit bernarasi gak apa-apa kan? 😀

Malam sudah larut, tetapi seperti biasanya, mataku ini tidak akan terpejam sebelum jam sembilan malam lewat. Timeline twitter yang super cepat membuat mataku sedikit pusing membaca posting-posting akun yang aku ikuti. Namun, mataku ini cepat melirik ketika akun @nulisbuku menginfokan sebuah proyek yang cukup menantang di bulan Mei, #BulanNarasi namanya. Proyek menulis ini diadakan oleh Bulan Narasi yang bekerja sama dengan NulisBuku.com dan juga penerbit PlotPoint. Apa sih proyek #BulanNarasi itu? Kalau dikutip dari situs bulan-narasi.com:

Bulan Narasi (Nulis Rame-Rame Nasional) dicanangkan dengan tujuan menggiatkan semangat menulis anak muda di Indonesia. Bulan Narasi akan dijalankan dalam bulan Mei 2014, mengundang pemuda dan penggiat dunia penulisan Indonesia untuk berpartisipasi menulis novel minimal 150 halaman dalam waktu 30 hari.

Selama proses menulis, diharapkan para peserta Bulan Narasi dapat meng-update perkembangan penulisan mereka di blog http://bulan-narasi.com dan juga melalui twitter @BulanNarasi dan hashtag #BulanNarasi. Tujuannya tentu agar sesama peserta saling menyemangati untuk bersama-sama sukses menyelesaikan tantangan ini.

Udah ngerti tentang #BulanNarasi kan? Jadi selama bulan Mei ini, para peserta Bulan Narasi harus bisa menyelesaikan sebuah novel dengan minimal 150 halaman. Selain itu, mereka juga diharapkan melaporkan perkembangan tentang tulisan mereka di blog bulan narasi.  Tema yang diajukan oleh panitia adalah roman. Hmm…berputarlah otak untuk mencari puing-puing ide segar.

Well, susah-susah gampang sebenarnya. Awalnya aku sempat bimbang akan ikut proyek ini atau enggak, mengingat aku memiliki beberapa amanah baru yang cukup berat untuk kepanitiaan di kampus. Tapi akhirnya nekat juga ikutan, dengan catatan hampir selama mengikuti proyek Bulan Narasi ini, aku selalu menulis setelah shalat isya’. Alhamdulillah, akhirnya aku bisa menyelesaikannya. 😀

Selama mengerjakan proyek Bulan Narasi ini tentunya diwarnai berbagai macam hal. Sebelum proyek dimulai, aku sebenarnya agak bingung. Apakah akan mengambil konsep ceritaku yang sudah ada, ataukah justru membuat lagi konsep yang baru dan benar-benar mentah? Terbesitlah sebuah ide yang mengutip dari beberapa peristiwa lalu. Aku memutuskan untuk benar-benar memulai semuanya dari nol. Begitu pula ketika mencari identitas tokoh-tokoh yang akan bermain dalam karyaku, ini bukanlah sesuatu yang mudah. Aku memutuskan untuk memakai sudut pandang orang pertama. Tokoh perempuan yang menjadi tokoh utama di dalam karyaku ini aku ambil identitasnya tidak jauh berbeda dengan karakterku (hehehe biar gampang). Hanya saja untuk tokoh-tokoh pendukung agak lebih sulit, terutama untuk tokoh laki-laki. Hanya saja, melalui sudut pandang orang pertama ini, aku tidak harus bersusah payah untuk membangun karakter tokoh-tokoh lainnya. Kemudian, saat yang paling menyenangkan adalah ketika aku harus mencari sosok penggambaran fisik dari para tokoh. Tak perlu lama-lama, penggambaran fisik para tokoh aku temukan di situs wallcoo.net. Tapi jujur, fisik image mereka terlalu sempurna. Ya sudahlah. Lanjut….

Hari-hari pertama menulis, ide terus mengalir deras dari otakku. Walhasil, kalau tidak salah, dua hari pertama aku berhasil menyelesaikan tiga bab dengan jumlah halaman 30-40 lembar. Semakin hari, aku merasakan tantangan semakin berat. Bukan hanya sekedar ide, tetapi masalah di luar itu. Meski sudah membuat kerangka menulis, ternyata aku ingin mengubah kerangka itu lagi, terutama di bagian akhir. Judul pun sempat diganti dua kali, karena judul pertama begitu sederhana. Akan tetapi, akhirnya aku kembali ke konsep awal mengikuti kerangka menulis yang sudah aku buat di awal sebelum proyek ini dimulai. Di luar itu, berbagai dinamika hidup aku sendiri sempat mengguncang ide-ide yang dulu tersimpan rapi di dalam otak. Hasilnya, di pertengahan bulan, aku hanya menyempatkan menulis untuk satu halaman saja dengan mata yang terkantuk-kantuk, kepala yang berat, dan hati yang cemas. Namun, aku tetap berusaha fokus untuk menjalankan semua tugasku sebaik-baiknya. Aduh, maafkan aku, jika banyak hal yang terlalaikan. Well, setelah semuanya terlewati, semuanya berjalan dengan normal, sedikit agak normal mungkin ya.

Kutargetkan tanggal 20 Mei, semua tulisanku selesai, meski tanpa editing. Hanya saja, karena ada amanah yang tiba-tiba saja datang, terpaksa aku harus menyingkirkan proyek ini meski masih tetap kukerjakan. Jadilah tanggal 22 Mei, novel ini baru bisa aku selesaikan. Barulah setelah itu aku melakukan proses self-editing. Meskipun tidak terlalu banyak, aku harus memeriksa kembali semua tulisanku tertata dengan rapi. Untuk pengerjaan cover pun, aku lakukan sendiri. Ketika ide sedang mandet, aku lebih memilih untuk menggambar konsep kasar cover novelku seperti apa. Setelah itu, aku baru mengerjakan desain di coreldraw meski agak sulit. Ketika proses editing selesai, desain cover untuk novel aku perbaiki. Selain itu aku pun harus menulis sinopsis dan merapikan daftar isi untuk novelku. Kulihat semuanya sudah selesai dan tuntas. Akhirnya, pada tanggal 28 Mei kemarin, aku meng-upload naskah novel Bulan Narasi-ku di situs nulisbuku.com. Fyuhh!! Yeah! Alhamdulillah, aku berhasil menyelesaikan proyek menulis ini dengan total halaman 193 lembar! Senangnya 😀

Harapan pertamaku mengikuti proyek menulis ini bukanlah untuk menjadi pemenang. Apalagi dalam tataran konsep cerita, ideku ini masih terlalu biasa-biasa saja. Ideku ini lebih mirip dengan tema yang diangkat oleh panitia acara ‘Kajian Intelektual Muslimah 2014’ yaitu Muslimah dan Perubahan, ya, ideku seperti itu! Harapanku adalah bagaimana agar aku bisa tetap konsisten untuk menulis meskipun tantangan dan masalah di depan begitu banyak, apalagi dengan deadline yang begitu cepat bagiku untuk mengerjakan sebuah novel. Akhirnya, semua itu bisa aku lewati. Aku bisa menyelesaikan sebuah novel dalam 22 hari saja. Makanya ‘An Ending Overcast’, judul novelku ini, adalah novel tercepat yang pernah aku buat, hihi. Harapan lainnya adalah setelah aku membuktikan diri di ajang kompetisi menulis ini, aku harus bisa menyelesaikan proyek menulisku sendiri yang sudah tertunda hampir beberapa bulan bahkan tahun. Huff. Padahal aku sudah mengerjakannya hampir setengahnya, hanya saja terkendala dalam masalah ide dan penulisan. Ahh, semoga saja aku benar-benar bisa menyelesaikannya segera.

Rencananya, ketika novel hasil proyek Bulan Narasi ini tidak menang (ya kali aja menang ya? :D), aku ingin sekali mengirimkannya ke salah satu penerbit mayor di Indonesia, PlotPoint mungkin sebagai salah satu panitia penyelenggaranya, dan semoga saja bisa terbit. Kalau pun tidak, aku akan terus mencobanya sampai ada sebuah penerbit mayor yang akan menerbitkannya. Itu saja!

Well, proses pembelajaran menulis belum berakhir. Aku harus terus mencari pengalaman menulisku untuk menaikkan skill-ku dalam bidang ini. Well, let’s see the progress….;)

 

Advertisements

Author:

a walker of the long journey seeking for the great last place in the eternal life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s