Posted in Segores Pena

Repost: Catatan Sang Narator

Catatan Sang Narator sebenarnya sudah pernah aku publish di salah satu blog milikku dan juga di kompasiana. Namun, karena blog tersebut sudah aku hapus, jadi lebih baik aku repost di sini aja ya, biar postingnya tambah penuh, hehe 😀

Catatan Sang Narator

Hmm…di luar angin cukup kencang bertiup. Awan pun gelap bergulung tebal, aku tak tahu hendak kemana awan-awan itu pergi, semoga saja bukan di atas langit atapku. Anak-anak kecil berlarian kesana kemari, mereka berteriak seolah takut pada cuaca yang sedang berkunjung. Tetapi aku heran, jika mereka takut, mengapa mereka masih berkeliaran di luar? Bukankah berada di dalam rumah itu lebih baik? Menyembunyikan ketakutan kita pada kekuatan alam di luar sana, ya seperti diriku! Aku memang penakut, tapi aku bukan pengecut! Ya, lebih baik aku berada di bawah atapku, sambil duduk di depan alat yang bisa membawaku ke alam lain yang bisa kukuasai. Alam yang bisa membuatku melakukan banyak hal, tidak peduli apa kata orang, karena mereka tidak bisa menguasainya. Hanya aku yang bisa! Hanyalah diriku! Bukankah begitu?

Aku adalah seorang narator. Aku terbiasa melantunkan kata-kata, membuatnya melangkah beriringan mulai dari pantai hingga berujung di puncak gunung, kemudian turun kembali menyusuri lembah melewati jalan setapak yang tidak pasti, bahkan tidak berujung. Biasanya akan lebih menegangkan jika semua itu berakhir di jurang, membuat para penonton terbelalak histeris dan tidak terduga. Aku menciptakan semua yang kuinginkan di alam imajinasiku, tanpa harus merasa takut. Kuciptakan dunia yang penuh misteri, dunia yang indah, dunia tanpa batas waktu, yang dipenuhi makhluk-makhluk yang tidak pernah ada di dunia nyata. Aku layaknya ‘tuhan’ bagi karya-karyaku. Hanya saja, aku menyadari, aku ini terbatas. Tak layak Tuhan disandingkan kepadaku, untuk mencari makan saja aku harus bersusah payah menulis agar mendapatkan royalti, sehingga aku bisa mendapatkan uang untuk kebutuhan hidupku. Aku hidup tak lepas dari kekuasaan-Nya. Begitu pun dengan karya-karyaku yang banyak diilhami oleh berbagai peristiwa yang dikehendaki oleh-Nya. Jadi, bisa kusimpulkan, orang yang mengakui bahwa tidak ada Tuhan di dunia ini adalah salah besar. Oleh siapakah mereka diciptakan di dunia ini? Apakah mereka akan mengakui bahwa diri mereka berasal dari kera, seperti kata Darwin? Ha! Pikir saja sendiri.

Menulis, bagiku, seperti bernafas. Aku selalu membutuhkannya. Kadang kala kesulitan kutemukan di berbagai jalan yang kulewati, tetapi aku tak berniat untuk mundur dari duniaku ini. Menulis, kadang seperti sebuah perjalanan wisata yang tidak membutuhkan dana sama sekali. Kubiarkan saja pikiran ini mengalir, mengarungi dunia yang tidak pernah kukunjungi sama sekali. Biarkan saja imajinasi ini menjadi tiket perjalanan yang tidak akan pernah berakhir, kecuali jika diriku sudah tak ada. Berjalan untuk mendaki puncak gunung yang diselimuti oleh butiran-butiran salju yang dingin memang tak pernah kualami, akan tetapi semua fantasiku pernah mengalaminya. Begitu pula ketika imajinasi ini memasuki sebuah dunia perang untuk menghancurkan kekuatan kegelapan, seolah aku sendiri yang sedang menjadi aktornya.

Menulis adalah sebuah kekuatan yang tidak bisa dihalangi. Tulisan menjadi cermin bagi sang penulisnya. Pemikiran dan perasaan bergabung menjadi satu dalam merangkai kata-kata, sehingga terciptalah suatu karya yang baru. Tulisan juga menjadi jendela bagi para pembacanya, layaknya sebuah portal yang mengantarkan pembaca menuju kehidupan lain, baik itu dunia nyata maupun dunia fantasi. Hanya saja kadang portal itu tidak selalu dapat dibuka oleh pembaca dengan sesukanya. Pembaca seharusnya memiliki filter diri yang dapat melindunginya dari tulisan-tulisan yang dapat memporak-porandakan pikirannya, bahkan pondasi bangunan hidupnya.

Suara gemuruh di luar rumahku terus bergaung saling menyahut. Hanya saja kudengar suara itu menjauh. Sepertinya awan-awan gelap itu juga sudah menemukan tempat yang cocok untuk mendaratkan pasukan-pasukan airnya. Awan putih tebal kini menggantikan kepergian sang awan kelabu di langit. Aku masih terpaku di depan laptop milikku, memikirkan kembali apa yang akan aku tulis.

Berjalan menuju sebuah kota tua di Inggris mungkin akan menjadi hal yang menarik. Selain itu, aku sudah membayangkan suasana kelam dan gelap di daerah Newcastle, Inggris, tepatnya di Eachwick. Meskipun bukan kawasan hutan, akan tetapi disana ada beberapa rumah tua yang cukup menyeramkan jika dilihat dari struktur bangunannya. Atau bagaimana jika kuberjalan menyusuri sebuah jalan yang dipenuhi dengan  daun-daun maple berserakan pada musim gugur di Kyoto? Pasti akan sangat mengasyikan sambil ditemani beberapa orang kawan yang masing-masing membawa sebuah cup latte panas. Hmm… Atau maukah kuajak kalian semua pergi menyeberangi dunia masa lalu melalui sebuah diari? Atau mengunjungi sebuah pohon raksasa dimana kau bisa menemukan sebuah mata air ajaib di dalamnya? Terlalu banyak dunia yang ingin kukunjungi. Hanya saja pemikiranku dan kemampuanku terbatas, sehingga imajinasiku pun menjadi tersekat-sekat.

Kadang aku menemukan jalan buntu ketika sedang menjelajahi dunia baru yang penuh dengan petualangan, sehingga perjalanan imajinasiku pun berhenti sejenak. Begitu pula dengan jari-jariku, mereka tertahan oleh pikiranku yang sedang beristirahat untuk mencari puing-puing ide segar yang dapat melengkapi perbekalanku untuk melanjutkan perjalanan ini. Harus kumasukkan banyak perbekalan ke dalam ransel otakku, agar aku dapat bertahan dalam dunia kepenulisan ini.

Sama seperti dunia kepenulisan yang memerlukan banyak bekal untuk karyanya, kita pun sebagai manusia yang hidup di dunia ini, kita pun harus memiliki banyak perbekalan agar kita selamat dalam perjalanan berikutnya. Pastikan ranselmu tidak rusak apalagi bocor, karena sayang sekali, kau sudah memasukkan banyak bekal, tapi semua perbekalanmu jatuh di tengah jalan. Kau tidak akan merasakan apapun. Karena kita pun seperti tulisan itu. Hari demi hari, kita pun dituliskan di sebuah buku yang tak terlihat. Kita hidup bagaikan karakter dalam setiap cerita. Setiap lembar, kita goreskan tinta-tinta kehidupan, merangkai kata dalam setiap peristiwa yang kita alami, apakah itu peristiwa baik atau pun buruk. Yang jelas akan selalu ada Narator yang akan menuliskan setiap waktu kita, Narator yang selalu mengikuti langkah jejak kemana kita berada, Narator yang selalu merekam gerak-gerik tubuh kita. Hingga akhirnya, suatu hari akan kita dapatkan buku hasil karya kehidupan kita sendiri di dunia yang lain.

Begitulah, kehidupan ini. Aku memang seorang narator, tak lebih dari itu. Aku memang dapat menguasai hasrat pikiran dan imajinasiku. Aku dapat menciptakan sesuatu yang aku inginkan, hanya dalam imajinasiku. Lalu kubuat nyata karena telah kuterbitkan karyaku, hingga orang lain pun dapat merasakan kehadiran tokoh-tokoh ciptaanku. Bahkan aku dapat membuat orang-orang terjebak dalam duniaku. Hanya saja, aku hanyalah manusia. Aku tak lepas dari kuasa lain yang lebih hebat. Aku hidup bukan di duniaku sendiri, aku hanya ikut hidup dan tinggal di dunia milik-Nya. Oleh karena itu, tulisan fiksiku hanyalah sebuah bubuk-bubuk ilusi semata dalam dunia yang sebenarnya dan akan hilang dalam sekejap saja. Begitu pula dengan tulisanku ini, tak lebih dari ocehan yang mewakili hati yang bisu.

Hujan turun rintik-rintik, memandikan dedaunan yang tertunduk malu. Hawa dingin terasa, terbalut dalam kesendirianku. Kudengarkan nyanyian alam begitu sunyi dan sepi. Langit yang kembali mendung, menemaniku di bawah atap sebuah rumah dalam suramnya kehidupan nyata.

 

Bandung, 4 Desember 2012

 

Arsvicesca

Dear_Diary__by_HollyHavok

Advertisements

Author:

a walker of the long journey seeking for the great last place in the eternal life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s