Posted in Segores Pena

Repost : Metafora

Hari itu, matahari begitu panas teriknya.  Apalagi sambil berjalan di atas pasir berkilauan layaknya berdiri di atas serpihan bara api. Angin siang membelai lembut kulit di pipiku yang dari tadi terlihat kusam dan berminyak. Aku melihat ke segala penjuru arah, seluas mata memandang.  Langit biru berhias awan putih yang tipis, menemani gagahnya matahari siang itu. Mereka seolah tak ingin menyingkir atau pun berkumpul bersama menghalangi raja siang di atas singgasananya yang tinggi di langit luas.  Ombak pun terlihat tenang mendukung suasana hari itu. Mereka berkejaran dan berlomba menghampiri diriku. Kucoba menyingkir dari kejaran mereka, hanya saja aku tak bisa. Mereka begitu cepat berlari, hingga akhirnya pakaian aku pun menjadi basah. Aku tertawa lepas, selepas angin berhembus yang menerbangkan layang-layang. Aku kembali berlari mengejar ombak, menggapai sisi lautan, hanya saja aku tak berani. Aku terdiam di atas batu karang besar di bawah batuan tebing. Kuhampiri sebuah pohon besar di sisi tebing, aku terduduk sambil melihat pemandangan siang itu. Aku tersenyum melihat pemandangan ini. Perasaan penatku selama ini hilang seketika dengan obat alami dari alam ini. Aku termenung.

***

Laut kali ini begitu damai dan tenang, biru berkilau berhias pasir putih. Matahari bersinar dengan ramah, angin berhembus dengan lembut. Aku mencoba menaiki sebuah sekoci kayu kecil di perairan yang tenang ini. Kuseret sekoci itu menuju lautan tenang. Kuambil sebuah dayung dan kumulai petualanganku ini seorang diri. Tak ada salahnya mendayung di atas lautan indah yang tenang ini bukan! Kucoba mengayuh dayung sambil melihat pemandangan indah di dasar laut berpasir putih. Ikan-ikan mungil berwarna-warni berenang kesana kemari, mengunjungi satu koral ke koral yang lain. Ada juga yang bersembunyi di balik terumbu karang, atau sebuah anemone berwarna cerah. Aku tersenyum. Kembali kukayuh perahu kecil ini.

Aku merasa terkejut ketika melihat pemandangan di belakangku. Aku sudah jauh dari pantai dimana aku berangkat tadi. Kini aku sendirian di tengah lautan tenang ini. Bertemankan langit cerah dan kilauan cahaya dari lautan nan biru seluas mata memandang. Ya aku sendiri! Entah kemana aku akan berlayar, lihat saja nanti. Semoga saja aku dapat menemukan sebuah pulau indah yang dapat memberikanku kehidupan baru yang lebih baik. Meskipun aku  tidak tahu dimana itu, tapi aku sangat berharap bisa menemukannya.

Sepertinya, aku melihat sebuah daratan di depan sana. Meskipun hanya pulau kecil, tapi pasti aku bisa mendarat di sana. Kudayung lagi sekoci kecil ini lebih bersemangat, agar aku dapat tiba disana lebih cepat. Dasar lautan biru yang bening dan indah ini sudah dapat kulihat. Aku langsung turun dari perahuku ketika aku menepi. Kuceburkan kakiku pada tepian laut. Kutarik sekoci ke atas pasir menjauh dari laut, agar ombak tak dapat membawanya. Kuhela nafas panjang sambil memandang pepohonan yang berada di atas pulau yang baru saja kusinggahi ini. Sepertinya pulau ini cukup luas untuk kujelajahi, hanya saja aku tidak akan menjelajahinya secara keseluruhan. Aku hanya akan melihat-lihat saja dulu, siapa tahu apa yang kucari dapat ditemukan disini.

Aku mulai menapaki daratan yang mungkin belum berpenghuni ini, atau mungkin mereka itu ada, hanya saja aku belum menemukannya. Harus kuakui, aku jatuh cinta kepada pulau ini pada pandangan pertama. Hal itu membuatku ingin segera menepi di pulau ini sejak tadi kuberlayar. Aku mulai memasuki kesegaran udara dari nafas-nafas pepohonan, meskipun aku tahu, pantai masih tak jauh di belakangku. Pepohonan menjulang tinggi, daunnya bergesekkan antara yang satu dengan lainnya, menyanyikan sebuah lagu diiringi hembusan angin yang tak nampak olehku. Mereka seolah sedang menyambut kedatanganku di pulau ini. Mereka melindungiku dari cerahnya sinar matahari. Begitu pula dengan suara-suara kicauan burung yang mengumumkan kedatanganku bagi semua penghuni di pulau ini. Aku harap sang pemilik pulau ini mengetahui kunjunganku kemari, sehingga ia bisa menyambutku dan menerimaku dengan jamuan yang istimewa.

Tanah yang kulewati kini mulai menanjak, aku mulai jauh dari perahu kecil yang  mengantarkanku. Kulihat pohon-pohon masih setia menemani perjalananku. Beberapa pohon kulihat menawarkan jamuannya untukku. Banyak sekali buah-buahan yang kutemukan di sepanjang aku berjalan. Buah-buahan itu menggantung dengan segar dan sangat menarik perhatian. Wajar saja ketika tangan ini menggapainya untuk memetik beberapa saja. Kupetik sebuah buah berwarna merah segar, buahnya terlihat menyegarkan di lidah, bentuknya bulat dan besar. Hanya saja aku ingin menyimpannya. Kumasukkan buah itu kedalam tas yang menggantung di tubuhku. Kulanjutkan perjalananku. Seketika itu kulihat pemandangan lainnya yang membuat hati ini semakin yakin, bahwa aku harus tinggal di pulau ini. Bunga-bunga berwarna-warni kini menyambut kedatanganku dengan riang. Wanginya dapat menenangkan perasaan ini. Kupetik sebuah bunga indah berwarna oranye, warna kesukaanku. Kupegang erat bunga itu di tanganku sebagai kenang-kenangan. Kudengar suara gemericik air yang menyegarkan pendengaranku. Aku ingin sekali pergi mencari sumber suara itu. Akan tetapi, aku merasa kelelahan. Aku berhenti sejenak di sebuah batang pohon rendah yang membungkuk, kemudian kulihat seekor kupu-kupu cantik berwarna keemasan hinggap di sebuah bunga yang letaknya tak jauh dari diriku. Ia menghampiri diriku dan hinggap dengan ramahnya di atas pundakku, membisikkan sesuatu, ia memberitahukanku bahwa ada pulau lain yang tak kalah lebih indah dari pulau ini. Sebenarnya, aku merasakan bahwa kupu-kupu ini telah mengikuti sejak tadi aku tiba di pulau ini, tapi aku tidak terlalu memperhatikannya. Baiklah, mungkin ini saatnya aku akan menjelajahi pulau lainnya. Meskipun begitu, hatiku tetap akan terpaut dengan pulau ini, karena pulau ini adalah cinta pertamaku. Akan selalu kuingat keindahan yang terdapat di pulau ini. Aku hanya berharap aku bisa kembali kesini suatu saat nanti.

Aku berjalan kembali menuju kapal perahu kecilku. Kuseret kembali menuju lautan yang biru. Matahari kini sudah turun. Aku berusaha tiba di pulau yang lain sebelum gelap menyelimuti langit malam ini.  Aku kembali mengayuh dayungku sekuat tenaga. Hingga akhirnya aku berada jauh dari pulau yang barusan aku kunjungi. Tapi tak berapa jauh ternyata pulau berikutnya sudah terlihat. Aku melihat seperti ada banyak batuan tersebar disana, aku juga melihat ada sebuah tebing yang cukup tinggi. Hanya saja, aku heran, ombak yang kuarungi masih sama seperti yang tadi begitu jernih dan tenang. Yang aku tahu, biasanya tepi pantai yang dipenuhi dengan bebatuan atau tebing biasanya ombaknya lebih kencang, tapi aku tidak menemukannya. Aku harus lebih berhati-hati mendayung agar perahu kecil ini tidak menabrak salah satu batu karang.  Akhirnya aku pun mendarat di pulau lain yang berpasir kecoklatan dan memiliki banyak bebatuan dan juga tebing.

Kulihat pantai di pulau ini lebih lapang dan luas, sebelum akhirnya ada sebuah hutan disana. Mungkin pulau ini lebih luas dari pada pulau sebelumnya. Kurasakan angin  berhembus lebih kuat menerpa wajahku, membasuh keringat dari teriknya matahari di siang hari. Aku beruntung, tiba di pulau ini di waktu yang tepat sebelum matahari tenggelam. Langit yang tadi berwarna biru sebiru lautan, kini menjadi oranye keemasan berlatar kelabu. Hmm…sunset yang indah! Aku berdiri di sebuah batu karang besar, memandang takjub pemandangan senja itu. Ombak berlarian menyapa diriku yang tertegun memandang pesona alam. Aku berteriak sekeras-kerasnya melampiaskan ketakjuban yang tersembunyi dalam hati. Aku tersenyum lega bisa menemukan pulau indah lainnya. Aku mulai berjalan menyusuri pantai ditemani burung-burung camar yang terbang di langit senja. Kulihat tebing-tebing di sisi pantai ini terlihat gagah dan perkasa. Rasanya aku ingin sekali memanjat tebing itu, lalu meloncat dan terjun ke dasar laut, akan tetapi rasanya sulit dan takut untuk pergi kesana. Mungkin suatu hari aku akan mencobanya.

Semakin lama, matahari semakin lenyap meninggalkan diriku sendiri dalam kegelapan. Kuas alam menyapukan warna gelap di atas kanvas langit. Aku termenung, seandainya pulau ini memiliki penghuni, ia pasti akan menemaniku dan melindungiku di bawahgelapnya malam, memberikan selimut untuk menghangatkan jiwa yang dingin ini. Aku duduk di atas pasir, kutengadahkan kepalaku ke atas. Kilauan-kilauan cahaya bersinar jauh di atas sana. Kerlap-kerlipnya terlihat indah mencuat di balik hitamnya langit luas. Sehingga putri malam pun tak sendirian malam itu, sinarnya yang terang terpantulkan di cermin lautan yang tenang, seolah tidak mau kalah dengan perhiasan langit, lautan pun berkilauan seperti untaian berlian yang terkubur. Aku merasakan kedamaian yang nyata. Hanya saja aku merasa kedinginan, sehingga hati ini pun terasa gundah gulana. Jujur saja, aku pun menyukai pulau ini dan aku sama sekali tak bisa menyangkalnya. Keindahan malamnya membuatku terbuai dalam mimpi yang nyata.

Aku kembali teringat dengan pulau yang sebelumnya kukunjungi. Aku merindukannya. Aku merasa ingin kembali kesana. Tetapi aku pun belum mau beranjak dari pulau yang baru saja aku tapaki ini. Aku ingin lebih baik mengenalnya di pagi hari nanti. Aku merasa nyaman berada disini, tetapi mungkin suatu saat aku akan kembali mengunjungi pulau yang tadi. Hatiku kini terpaut pada dua tempat. Entah mana yang akan kupilih tinggal pada akhirnya. Mungkin saja setelah ini, petualangan baruku akan dilanjutkan. Pulau-pulau lainnya yang mungkin lebih indah akan kutemukan. Aku tidak tahu. Kini biarkanlah sejenak aku melepaskan lelahku, biarkan aku terlelap dalam tidurku, di atas pulau ini.

***

“Hey! Ngelamun aja! Dicariin tuh sama papa!” sebuah hentakan keras di punggungku akhirnya membuyarkan lamunanku. Cita, adikku, berhasil memecahkan puing-puing cerita yang kususun dalam imajinasiku.

“Iih!! Ngeganggu aja kamu! Iya, nanti aku kesana kok! Bawel!!” sentaku kesal. “Yeee…gak usah sewot juga kali! Kebiasaan tuh!” celotehnya. Cita meninggalkanku kesal.

Siang telah berlalu, kini hari mulai memasuki senja. Entah berapa lama aku duduk di bawah pohon ini sambil termenung. Aku tersenyum sendiri mengingat kembali  metafora yang kubuat sebagai perwakilan atas perasaan yang kini menyelimuti diriku.

Seandainya, kutemukan pulau itu….

***

Kubuka mataku yang terpejam. Ternyata malam masih menyelimuti langit. Aku tersenyum sendiri melihat kilauan berlian di depan mataku.  Malam memang sudah semakin larut, dan entah berapa lama aku tertidur di atas pulau ini. Aku sadar aku tak dapat memejamkan mataku kembali. Hatiku terlalu riang melihat pemandangan menakjubkan di kanvas hitam milik Tuhan itu. Meskipun aku sendiri, tapi sang putri malam dan para bidadari langit yang bercahaya telah menemaniku dalam kegelapan malam yang pekat.

Aku berdiri, menghirup segarnya udara malam, melompat dan berlari-lari riang, seperti percikan api. Kemudian, aku terdiam lama sekali. Ada satu hal yang membuatku tertarik, dan berpikir. Apakah itu, jauh disana dalam kegelapan? Letaknya satu garis dengan pandanganku. Aku tak yakin benda apa itu? Satu titik cahaya terang temeram jauh sekali dari tempatku berdiri.  Aku berpikir mungkin sebuah bintang yang akan tenggelam.  Tapi pasti bintang akan terlihat berkilauan dari jauh. Aku melihat cahaya baru ini lebih redup tapi terlihat sangat hangat dan ramah. Hanya saja, aku tak yakin dimanakah cahaya itu berada. Terlihat sangat jauh sekali, aku tak yakin bisa menggapainya. Tetapi, jika matahari muncul pasti cahaya itu tak akan terlihat. Aku harus segera menemukan sumber cahaya itu. Aku terlalu merasakan kedinginan disini, aku membutuhkan cahaya yang bisa menghangatkan diriku dalam kesendirianku.

Aku segera berlari mencari sekociku. Kuseret sekociku ke atas permukaan air laut yang tenang. Semoga gelombang malam membantuku membawaku ke tempat cahaya itu berasal. Aku khawatir sang matahari akan menampakkan wajahnya sebelum aku tiba disana. Entah dimana cahaya itu tepatnya, aku hanya akan tetap memusatkan perhatianku pada cahaya itu, sehingga aku bisa sampai disana. Kumulai kayuh dayungku dengan sekuat tenaga. Aku beruntung, ombak malam ini mendorong sekociku ke arah cahaya itu berdiam. Cahaya itu tidak padam, ia masih menyala disana, sangat jauh dan masih jauh. Kudayung terus sekociku tanpa rasa takut. Cahaya itu semakin jelas dan nyata. Tetapi masih jauh untuk tiba disana.

Aku mulai merasa kelelahan, dan tak yakin untuk bisa sampai disana. Meskipun aku tahu, cahaya itu pasti akan tetap berada disana. Aku sangat ragu untuk bisa kesana mencari tahu cahaya apakah itu. Aku berhenti sejenak, menghela nafas. Kutanyakan pada hatiku, haruskah kulanjutkan perjalanan ini? Ataukah aku harus kembali? Hatiku menjawab bahwa aku harus meneruskan perjalanan ini. Setengah perjalanan sudah kulewati, dan kini kuharus lanjutkan. Aku kembali mengayuh sekoci, dengan bantuan sang ombak yang bergantian mendorongku.

Aku merasakan kembali keragu-raguan itu, rasa takut ketika aku tiba disana, aku tidak tahu apa saja yang akan kuhadapi disana? Tapi hati ini terus menyuruhku melanjutkan perjalanan. Hingga tak terasa aku sudah tiba di pesisir pantai pulau yang bercahaya itu. Kutambatkan sekociku pada sebuah tiang kayu dengan kuat, berharap semoga sekociku tak tergiur dengan hempasan lembut sang ombak. Kuhela nafasku, aku merasakan kesederhanaan dan ketenangan di atas pulau yang sangat asing bagiku. Imajinasiku mulai bermain, mungkin akan kutemukan sebuah kehangatan yang menyambutku, atau keramahtamahan sang pemilik pulau ini akan membiarkanku tinggal di dalamnya. Atau mungkin saja, aku akan kembali pergi menemukan pulau lainnya jika sang pemilik tidak memperkenankanku untuk menjajaki tanahnya. Aku merasakan kegugupan yang begitu nyata.

Cahaya itu masih menyala dengan sangat ramah dan terlihat semakin terang. Aku ingin pergi menuju cahaya itu. Tetapi rasa gugup ini masih menyelimuti diriku. Haruskah aku berjalan kesana? Atau membiarkan angin yang mendorongku melewati jalan setapak yang belum kutemukan? Kegalauan menyelimuti diriku. Aku masih berada di atas sekociku yang sudah kutambatkan. Tapi aku masih enggan untuk menginjakkan kakiku di atas pasir yang berkilauan ini. Kuharus menunggu bisikan sang angin pagi. Kuharus biarkan matahari bersinar sebagaimana mestinya, mungkin ia akan memberiku jawaban yang bijak. Dan akan kutunggu hingga malam, hingga cahaya itu terlihat kembali.

***

To be continued and still to be continued

Advertisements

Author:

a walker of the long journey seeking for the great last place in the eternal life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s