Posted in Segores Pena

G. A. L. A. U part 1

Malam begitu kelam mencekam. Dingin yang berangin menyapu setiap  lengkingan suara rintihan hewan-hewan malam. Gadis itu tampak tak bisa diam. Selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya, beberapa kali terlihat menggulung seperti mumi. Dalam balutan gelap ruangan tidurnya, kali ini ia menyingkirkan selimut merah dari wajahnya. Matanya menatap atap langit-langit berdebu di atasnya. Keringat bercucuran dari dahinya, padahal hembusan angin mampu menembus tirai jendela kamarnya. Ia mengambil nafas berkali-kali. Kemudian merubah posisi tubuhnya ke samping kanan, kiri, depan, dan kali ini berakhir dengan menenggelamkan wajah di bantal empuknya. Suhu panas masih mengalir dalam tubuhnya semakin panas dan panas. Hatinya bergejolak mendidih tetapi belum mencapai 100 derajat celcius.

Nanti juga lupa! Pekiknya dalam hati, ia meghela nafas. Akan tetapi, pikirannya kembali melayang. Uluran kain panjang yang jatuh hingga sampai ujung kaki, dilengkapi dengan balutan sehelai kain yang berayun tertiup angin, akan menambah parasnya menjadi berseri-seri. Nanti juga lupa! Omelnya lagi. Hingga rasa kantuk itu akhirnya menyapanya dalam hawa dingin yang membuat matanya terpejam hingga sang fajar tiba.

Pagi itu mentari telah bangun dan mulai memanjat sedikit demi sedikit. Gadis itu telah bersiap-siap untuk memulai aktivitasnya sebagai mahasiswa di salah satu universitas terfavorit. T-shirt abu dengan logo klub sepak bola kebanggaannya telah dikenakannya sejak pagi tadi. Tak lupa ia balutkan kerudung hitam untuk menutupi salah satu perhiasan miliknya.

“Bu, Pak! Berangkat dulu ya?” pamitnya tanpa bersalaman kepada orang tuanya.

“Hati-hati ya Teh!” kata ibu yang juga sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja.

“Kamu bawa motor?” tanya bapaknya yang sudah terlihat rapih, wangi parfum menyengat bapaknya membuat gadis itu mengkibas-kibas tangannya di hadapannya.

“Iya, Pak! Nanti siang juga udah pulang kok!” jawabnya.

“Ya udah, hati-hati!”

Gadis itu tampak terlihat cuek dengan setelan yang menurutnya ‘gue banget’. Celana jeans lurus memang sangat cocok dipadukan dengan t-shirt kebanggaannya, yang seharusnya dipakai oleh anak laki-laki seusianya. Namun begitulah ia, gadis yang bernama seperti laki-laki itu memang begitu nyaman dengan gayanya yang sedikit tomboy, meski sangat kontradiktif sifatnya yang begitu pemalu. Helm hitam milik bapaknya itu kini menutupi seluruh kepalanya. Ia balutkan sarung tangan yang akan melindungi punggung tangannya dari sengatan matahari yang membakar. Motor Honda supra X kini bergerung. Dua roda berputar menapaki aspal yang tak pernah rata, merekam jejak-jejak kehidupan masa dulu, kini, dan nanti.

***

“Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikumsalam! Bu, bawa apa?” tanya gadis itu seraya menghampiri kedua orangtuanya yang baru saja pulang bekerja.

“Ah, enggak bawa apa-apa! Maklum udah akhir bulan!” jawab ibunya terlalu jujur, membuat anak pertamanya itu kecewa dalam hatinya.

“Bu, bu! Teteh mau lihatin sesuatu!” kata gadis itu membuntuti ibunya ke dalam kamar.

“Apa itu?” tanya ibunya heran.

Gadis itu terburu-buru menapakki anak tangga, menuju kamarnya di lantai atas. Ia mengambil satu kantong hitam yang disimpannya di dalam tasnya. Ia kembali menuruni anak tangga dan kembali menghampiri ibunya.

“Bu, lihat deh!”

Gadis itu dengan sumringah mengambil sesuatu dari dalam kantong plastic hitam yang ia bawa. Sebuah gaun kotak-kotak berwarna merah marun dengan kombinasi katun pink ditunjukkannya di hadapan sang ibu yang sedang merapikan pakaian rumahnya. Gaun itu bukanlah gaun biasa. Gaun itu adalah sebuah gamis. Gamisnya pun bukan gamis biasa. Itu adalah gamis syar’I atau sebuah jilbab, istilah yang dikenalnya setahun lalu.

“Dari siapa itu?” tanya ibunya keheranan.

“Ini dikasih sama teteh mentoring, Bu!” jawabnya sambil melihat dirinya di kaca, berusaha mencocokkan tubuhnya dengan jilbab hasil pemberian kakak mentoringnya itu.

“Lucu yah?” kata ibu.

“Iya! Bu, nanti beliin lagi baju yang kayak ginian aja ya?” pintanya, matanya berbinar.

“Iya, insya Allah nanti kalau ada rezeki ibu belikan!”

Gadis itu tersenyum, masih di depan cermin lemari milik ibunya. Wajahnya berseri-seri. Ia teringat setahun lalu, ketika hatinya gundah gulana memikirkan sebuah ayat yang berhasil membuatnya galau setengah mati.

Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutup jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang — (Al-Ahzab: 59)

Namun kali ini, hatinya telah mantap untuk memutuskan bahwa ia akan menutup auratnya secara sempurna yaitu dengan mengenakan jilbab dan kerudungnya secara juyub. Ia sangat tahu konsekuensi atas pilihannya itu, yang berarti ia harus menanggalkan semua t-shirt sepak bola kebanggaannya dan juga celana jeans miliknya. Jelas ini merupakan pilihan berat baginya, tetapi ia telah mempasrahkan dirinya dan mengikuti kata hatinya untuk tunduk pada Sang Pemilik Ayat tersebut.

Hari-hari terus berjalan, dunia pun terus berputar. Pilihan demi pilihan telah diputuskan, kini sang gadis masih terus memperbaiki dirinya untuk tampak lebih cantik di mata-Nya. Semoga ia selalu istiqomah dalam setiap keputusan terbaik yang telah dipilihnya.

*maaf ya ilustrasinya pake danbo aja biar unyu ^_^, hehe

Advertisements

Author:

a walker of the long journey seeking for the great last place in the eternal life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s