Posted in Confession

One Step at A Time

Waktu memang cepat berlalu, tak terasa kini sudah memasuki penghujung akhir tahun 2014. Banyak hal terjadi di tahun 2014 ini, terutama beberapa bulan terakhir. Begitu cepat tahapan-tahapan kehidupan yang kujalani.

Hal itu dimulai ketika aku berta’aruf dengan seorang ikhwan yang sekarang menjadi suamiku di bulan Juni lalu. Kami berproses untuk saling mengenal satu sama lain serta mencocokan visi misi cukup dalam tiga bulan saja, setelah itu kami memutuskan untuk lanjut ke jenjang pernikahan. Tanggal 14 September dipilih oleh ayahku sebagai tanggal baik untuk melangsungkan pernikahan. Rasanya jika mengingat kembali pada saat itu, banyak hal yang kurasakan. Apalagi aku mengurus pesta pernikahan ini seorang diri. Sebenarnya tidak benar-benar seorang diri, ada tanteku -yang sejak kecil ikut merawatku- juga membantu segala hal. Maklum ibuku sedang sakit keras, sehingga beliau mempercayakan segalanya pada adiknya itu. Mulai dari melist tamu undangan, mencari vendor untuk katering dan dekorasi, mendesain kartu undangan, membeli souvenir, mencari sewa busana pengantin dan tata rias yang bisa dilobi untuk dandanan syar’i, dan lain-lain yang cukup rumit dan memusingkan. Stres? Iya, pastinya. Karena semuanya diserahkan pada pihak perempuan. Tapi, alhamdulillah segalanya berjalan lancar. Setelah itu, aku mulai menapaki kehidupan baruku sebagai seorang istri.

Waktu terus bergulir, detik demi detik. Hidup sebagai sepasang suami istri bukanlah sesuatu yang mudah dan selalu indah. Apalagi kami belum menetap di rumah sendiri atau kontrakan secara mandiri. Kami masih hidup menumpang di kediaman orangtuaku. Pada awalnya, kami berniat untuk mencari rumah kontrakan dan pindah dari rumah kedua orangtuaku. Suasana panas mulai terasa ketika ada rasa ketidaknyamanan antara adik-adikku (yang notabene perempuan semua) dengan suamiku. Kami pun segera memutuskan untuk segera pindah, apalagi ibuku juga menyuruh kami untuk segera mencari rumah sendiri agar kami bisa menjalani kehidupan rumah tangga secara mandiri. Namun, ada satu yang mengganjal. Ibuku mengidap kanker payudara stadium lanjut, kondisinya sudah sangat parah. Jika aku, sebagai anak pertamanya, pindah maka tidak ada orang yang dapat menjaga ibu lagi, karena ayah dan adik-adikku pasti disibukkan dengan aktivitas mereka masing-masing. Sebelum menikah pun, memang hanya aku yang selalu diandalkan untuk merawat ibu, sehingga kegiatanku di kampus menjadi tak sepadat biasanya. Aku mulai jarang sekali keluar rumah, bahkan aktivitas dakwah sempat terganggu. Aku kesulitan untuk melakukan kontak personal, atau mengopinikan ide-ide karena ibu sulit untuk ditinggalkan meski semenit saja. Karena kondisi ibu semakin tidak baik setelah pesta pernikahanku, ibu dilarikan ke rumah sakit terdekat. Keadaannya memang jauh lebih baik setelah dirawat selama seminggu di rumah sakit. Biasanya di rumah, ibu hanya meminum obat-obatan herbal, serta mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan yang kami sediakan. Lain halnya di rumah sakit, ibu diberi suntikan obat pereda rasa nyeri, serta diberi makan tiga kali sehari secara teratur. Hanya saja, hal ini tidak membuat kondisi ibu semakin baik setelah pulang dari rumah sakit. Obat pereda rasa nyeri itulah yang membuat ibu terlihat bugar di rumah sakit, tetapi tidak menyembuhkannya. Dokter menganjurkan untuk kemoterapi, tetapi setelah kondisi tubuhnya stabil. Namun, kondisi ibu tak kunjung membaik, bahkan dokter lain sudah angkat tangan tak bisa menangani penyakit ibu yang sudah semakin parah. Akhirnya ibu kembali dibawa ke rumah sakit lain, sesuai yang dianjurkan oleh keluarga. Namun apa daya, kondisi ibu terus melemah dan melemah, hingga kemudian tak sadarkan diri. Kami semua panik dan berdoa untuk yang terbaik.

Malam itu, kami semua ditambah saudara lainnya berkumpul untuk menemani ibu yang tengah tak sadar. Nafasnya muncul dalam beberapa belas detik sekali. Matanya sudah terpejam sejak pagi. Kami bergantian membacakan Al-Quran di samping telinganya. Air mata mulai menetes membasahi wajah kami. Suasana malam itu sungguh terasa dingin dan hampa. Kami terus mengiringinya dengan kalimat-kalimat Allah. Kami melihat ada kilauan air di matanya yang sedang terpejam. Ibu menangis dalam ketidaksadarannya. Hingga hampir tengah malam, ibu akhirnya pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Suara tangisan pecah di tengah kesunyian rumah sakit malam itu. Ibu benar-benar pergi meninggalkan kami. Selamat jalan ibu, semoga kita dipertemukan kembali di jannah-Nya. Aamiin…

Hampa, dingin, dan sunyi. Itulah suasana rumah setelah kepergian ibu. Dalam keheningan, memori bersama ibu masuk melalui relung-relung jiwa. Kadang tangis masih terus membasahi ketika mengingat momen-momen bersama ibu. Namun, kehidupan haruslah berjalan sebagaimana mestinya. Kita semua pun akan berakhir seperti ibu, menemui-Nya ketika sudah dipanggil. Aku teringat pada pesan ibu terakhir kali ketika ibu masih tersadar, ‘Teh…jagain adik-adiknya ya?!’ Insya Allah, aku akan terus berusaha menjaga adik-adikku. Kini keadaan sudah jauh lebih baik.

Tahapan-tahapan kehidupan memang begitu cepat ditapaki. Setelah kepergian ibu, ada sinar kebahagiaan tersembul. Sebenarnya aku sudah merasakannya jauh ketika ibu belum pergi. Bahkan aku sempat berbicara padanya tentang hal ini. Yup, aku hamil! Alhamdulillah… Akan ada penghangat di tengah-tengah rumah, tangisan kecil dan mungil yang membuat orang bahagia. Kini usia kandunganku sudah berumur 9 minggu. Semoga kau sehat selalu ya, nak! Semua orang pasti menunggu kehadirannya. Ini adalah kehamilan pertamaku, dan ketika itu pula orang yang paling aku butuhkan nasihat dan pengalamannya kini sudah tak ada disampingku untuk mendampingiku.

Kondisi fisikku sangat tidak stabil, cepat terasa lelah ketika selesai mengerjakan suatu pekerjaan yang padahal biasa saja. Punggung dan pinggangku sering pegal-pegal. Kadang mual meski tidak sering. Juga tiba-tiba saja merasa lelah padahal tidak melakukan aktivitas berat. Hari-hariku menjadi kurang produktif. Untuk menulis saja sulit, apalagi untuk menganalisis suatu hal. Mungkin aku harus terus berlatih dan membiasakannya. Aku ingin anakku nanti bisa menjadi anak cerdas dan menjadi politisi dan negarawan ulung ketika besarnya.

Ah…aku harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk calon anakku ini. Semoga tulisan ini bisa menjadikanku terpacu untuk produktif kembali. Karena tahapan kehidupan selanjutnya akan segera menanti. Aku harus siap menjadi seorang ibu yang hebat bagi anak-anakku nanti. Readyyy!!!

Advertisements

Author:

a walker of the long journey seeking for the great last place in the eternal life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s