Posted in Catatan

Komunikasi Harmonis dan Efektif Suami-Istri (bag.2)

Mari kita lanjutkan pembahasan Komunikasi Harmonis dan Efektif Suami-Istri.

‪#‎WomenandShariah‬

Berikut ini adalah beberapa faktor penghambat keberhasilan yang sering terjadi dalam komunikasi suami-istri:

(1) Suami/istri menyalahkan pasangan (blaming partner), bukan menunjukkan kesalahannya secara spesifik. Akhirnya, pasangan akan tetap menganggap dirinya benar dan tak menyadari kesalahan yang telah dia lakukan. Salah satu contoh adalah tuduhan bahwa suami/istri telah melanggar hukum syariah karena telah mengabaikan kewajibannya, namun tidak disertai penjelasan letak kesalahannya.

(2) Saling menyalahkan dan biasa mencari-cari kesalahan pasangan. Biasanya diawali dengan persepsi bahwa pasangannya salah, padahal boleh jadi dia benar. Karena gaya saling menyalahkan ini, komunikasi tidak akan mampu mengungkap kebenaran. Yang terjadi sebaliknya, mereka akan terus bersitegang serta menganggap pasangan-nya keras kepala dan tidak bisa dinasihati.

(3) Antipati terhadap kritik atau nasihat yang disampaikan pasangan. Perkataan apapun yang disampaikan pasangan akan diterima sebagai hujatan yang menyakitkan. Mereka sulit menyadari kesalahan bahkan yang terjadi malah ketersinggungan.

(4) Qiyasy-syumuly. Menganggap salah semua yang dilakukan/dikatakan pasangan, padahal boleh jadi kesalahan yang dilakukan hanya satu/beberapa kali saja.

(5) Tidak mencari akar masalah. Ketika komunikasi harmonis tidak terjalin di antara suami-istri, sering keduanya menghindari komunikasi yang berkelanjutan. Demi mengakhiri perdebatan, tidak jarang muncul pengakuan semu, “Ya, saya yang salah.” Pernyataan ini bukanlah pengakuan sebenarnya. Jauh di lubuk hati yang paling dalam dia tetap tak menerima perlakuan pasangannya dan cenderung menyalahkan-nya. Alih-alih menuntaskan permasalahan, yang terjadi bisa saja makin menumpuk masalah dan mendatangkan sengketa yang lebih besar.

(6) Jangkauan pendek, tidak ke masa depan. Perbedaan karakter suami-istri sangat membutuhkan kesabaran untuk mempertemukannya. Kesalahan yang dilakukan pasangan sekarang insya Allah ke depan akan bisa diperbaiki dengan upaya yang sungguh-sungguh dan disertai kesabaran.

Panduan Komunikasi Efektif Suami-Istri:

(1) Tanamkan dalam hati bahwa suami/istri adalah bagian dari kita; bukan orang lain, bukan saingan, apalagi musuh yang mengancam. Dengan pemahaman ini maka kita akan senantiasa menerima masukan, kritikan dan nasihat pasangan sebagai sesuatu yang baik untuk keutuhan keluarga.

(2) Mengedepankan hukum syariah, bukan keinginan dan kepentingan pribadi. Ketundukan terhadap hukum syariah akan meringankan kita untuk menerima kebenaran yang disampaikan suami/istri sekalipun bertentangan dengan keinginan kita.

(3) Berupaya memperlakukan suami/istri dengan makruf. Bagi suami terdapat hadis Rasulullah saw.:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku (HR Tirmidzi dan Ibn Majah).

Untuk para istri ada hadis Rasulullah saw.:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

Andai aku boleh memerintahkan seseorang bersujud kepada seseorang yang lain, niscaya aku akan memerintahkan wanita bersujud kepada suaminya (HR Tirmidzi).

Dorongan meraih derajat terbaik di sisi Allah SWT akan membantu suami/istri memperlakukan pasangannya dengan sebaik-baiknya. “Service Excelent” menjadi cita-citanya

Karena itu seorang istri akan berupaya keras menaati suaminya dan memasukkan kebahagiaan ke dalam hati suaminya meski harus mengorbankan istirahat/rileks atau kesenangannya sendiri. Sebaliknya, seorang suami akan menjadi orang yang paling lembut, paling perhatian dan paling bertanggung jawab di hadapan istri dan keluarganya meski harus memupus sebagian keinginannya.

(4) Tidak kaku dalam komunikasi. Kehidupan suami-istri adalah ketenteraman dan ketenangan serta cinta dan saling percaya. Sikap keras hati suami/istri kadang bisa diluluhkan dengan kelembutan. Arogansi mampu ditundukkan dengan ketataan dan keikhlasan. Prasangka akan hilang dengan keterbukaan. Rasa kesal dan putus-asa sirna dengan kesabaran.

(5) Mendudukan suami/istri sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan sekalipun mereka ustadz/ustadzah atau aktivis dakwah yang senantiasa mengajak orang menegakkan kebenaran. Kesadaran ini akan membantu kita menerima kesalahan yang dilakukan pasangan, namun tidak membiarkan kesalahan terus terjadi. Kesalahan dan kelalaian harus diisertai dengan sikap saling menasihati. Pemahaman bahwa suami/istri bukan manusia sempurna tanpa cela dan cacat akan memupuk kesabaran menghadapi kelemahan dan kekurangan pasangan (Lihat: QS an-Nisa [4]: 19).

WalLahu a’lam.

*Ustadzah Dedeh Wahidah Achmad

sumber: https://www.facebook.com/KomunitasMuslimahRinduSyariahKhilafah

Advertisements

Author:

a walker of the long journey seeking for the great last place in the eternal life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s