Posted in Segores Pena, Uncategorized

Sebingkai Cerita Tentangmu, Aku Rindu!

Rindu. Hanya ada satu kata yang kurasa saat ini. Ya, rindu!

***

“Teeeh…..” biasanya panggilan itu terdengar nyaring tiap waktu, menggema dalam sudut ruang jiwaku. Hingga kadang aku merasa kesal karena kenapa hanya aku saja yang dipanggil, bukan “Niiit….” atau “Leeen….”. Tetapi kadang aku berpikir, mungkin karena aku lebih bisa menolongnya dibandingkan kedua adikku.

***

“Teh udah makan? Ini ada nasi box, sok aja buat teteh!” Ia seringkali memberikan jatah makan siangnya padaku, ketika aku mendatangi ruangan kerjanya. “Kalau ibu makan apa?” tanyaku balik. “Nanti ibu mah beli aja, nyuruh ke Mang Lili! Sekalian beli makan siang buat bapak!” Aku senang-senang saja ketika mendapat nasi box berisi ayam bakar dan sambal terasi kesukaanku.

***

“Bu, maafin teteh ya? Teteh banyak salah sama ibu, banyak dosa sama ibu! Maafin teteh ya bu!” kata-kata itu seketika membuat ibu terkaget-kaget dibuatnya. Ibu yang sedang berbaring setelah shalat subuh terkejut mendapatiku bersimpuh di hadapannya sambil memohon maaf padanya. Tangisku pecah kala itu.

“Teteh kenapa? Teteh mah ga banyak salah sama ibu. Kenapa teteh nangis?” tanya ibu, masih dengan rasa heran. Bapak dan adikku, pun terkaget-kaget, mereka melihatku menangis tanpa sebab di pagi hari.

“Teteh ngerasa banyak salah sama ibu! Teteh belum bisa bahagiain ibu! Maafin teteh ya bu!” ujarku masih sambil terisak-isak. “Iya, ibu maafin teteh! Sini cerita sama ibu, ada apa sebenarnya?”

Dan aku mencoba tenang dan menceritakan semuanya. Kala itu aku merasa kecewa terhadap manusia. Aku merasakan dampaknya akibat berharap kepada manusia. Aku merasa sakit, merasa terkhianati, dan merasa dipermainkan. Saat itu aku tengah berikhtiar untuk mencari pasangan hidup. Namun, Allah menamparku dengan ujian ringan, bahwa berharap pada manusia adalah kesalahan besar. Lalu ketika malam tiba, aku bermunajat pada-Nya dan memohon ampun pada-Nya, seketika itu seolah ada jawaban, bahwa doa Ibu adalah kuncinya.

Teteh harus bersyukur. Karena apa yang teteh rasakan sekarang tidak sama seperti apa yang ibu rasakan saat muda dahulu. Alhamdulillah ibu punya anak-anak gadis yang shaleha, yang tidak punya pacar. Ibu khawatir zaman sekarang pergaulannya sangat bebas. Tapi ibu tenang melihat teteh mengkaji agama, dan adik-adik juga jadinya bercermin sama teteh.”

            Ibu tersenyum dan membelai kepalaku yang tertunduk. Kemudian ia tertawa kecil. “Kadang ibu ga nyadar, kalau teteh udah dewasa, udah waktunya nikah. Perasaan teh, masih anak kecil aja! Insya Allah, ibu doain semoga teteh cepet dapet jodoh. Jodoh yang shaleh dan penyayang.”

Hatiku merasa tentram dan tenang setelah itu. Meski kadang kegalauan merasuk jiwa, tetapi aku yakin bahwa doa ibu selalu Allah kabulkan, insya Allah.

***

“Teh, gimana setelah ini? Jadi deg-degan ibu mah!”

Saat itu aku sudah menemukan calon pendamping hidupku. Kami melaksanakan proses taaruf. Ia telah datang menemui kedua orangtuaku untuk yang kedua kalinya. Jujur saja, aku merasa tak karuan bertemu dengannya. Aku juga begitu kaku ketika berbicara dengannya, meski didampingi kedua orangtuaku. Memang belum ada kepastian, apakah taaruf ini akan berlanjut kepada khitbah (pinangan) atau harus berakhir karena ada ketidakcocokan diantara kami? Inilah yang membuat ibu merasa was-was.

“Tenang aja Bu, insya Allah Allah memberi jawaban terbaik!”

            “Kalau teteh, ngerasanya gimana dengan taaruf ini?”

            “Insya Allah, hati teteh sudah mantap dan cenderung sama dia. Tapi, teteh belum tau, gimana dia perasaannya? Jadi teteh coba pasrahkan hati aja sama Allah. Teteh ga mau sakit hati lagi karena manusia, Bu! Jadi ibu tenang aja ya?”

Tak lama setelah percakapan antara aku dan ibu, sebuah pesan dari Blackberry Messenger datang. Itu dari dirinya. Ia menyatakan kemantapan hatinya untuk melanjutkan proses taaruf ini denganku. Hari itu juga ia meminangku secara personal. Kedua orangtuaku, terutama ibu, merasa tenang. Meskipun sebenarnya aku masih merasa was-was apakah ia benar-benar jodohku?

Tanggal pernikahan telah kami putuskan. Tiga bulan setelah berkenalan, kami akan mengakhirinya di pelaminan nanti. Hanya saja kondisi ibu semakin tidak stabil.

***

“Teh, Ibu ga tau apa bisa kuat bisa hadir di pernikahan teteh atau engga. Ibu minta sama teteh, coba ikhlas meski ibu ga ada di pernikahan teteh ya! Ibu udah minta tolong sama tante Hani, buat dampingi teteh sampai nanti hari pernikahan!”

Aku terhenyak mendengar perkataan ibu. Aku sadar, kondisi ibu tak lagi stabil. Penyakit kanker payudaranya sudah semakin parah semenjak empat tahun terakhir. Ia sering menangis sendirian di kamarnya, merasakan perih di dadanya yang kunjung memburuk. Kami tak bisa berbuat banyak untuk membantunya kecuali selalu memberinya semangat untuk terus sehat. Ibu memang tidak melakukan operasi pengangkatan payudara, ia lebih memilih melakukan perawatan alternatif, seperti meminum teh daun sirsak, ekstrak kulit manggis, jamu-jamuan racikan para ahli herbal, dsb. Tetapi kondisinya tak kunjung membaik. Hari pernikahanku memang tak lama lagi. Akan tetapi aku harus siap dengan apa pun yang terjadi.

“Anak gadis lain biasanya ibunya yang kesana kemari buat persiapan anaknya nikah. Teteh mah kasihan, sibuk sendiri nyiapin buat pernikahan. Tapi untung ada tante Hani yang bisa bantuin!” kata ibu suatu siang.

“Engga apa-apa Bu! Ibu fokus aja untuk sembuh, biar bisa dampingi teteh di pelaminan ya Bu?! Kataku coba menyemengati.

***

H-2 tiba. Kami melangsungkan pengajian di rumah. Tamu yang datang adalah ibu-ibu pengajian di masjid dekat rumah, yang juga teman-teman dekat ibu. Mereka berdatangan satu persatu, lalu bersalaman dengan kami.

Bu Yuli, sehat?” pertanyaan serupa yang selalu diajukan oleh para tamu. Ibu memang sudah lama tak menghadiri pengajian masjid, karena kondisinya yang tidak tentu.

            “Ya begini saja, Bu! Cuma bisa duduk dan istirahat aja sekarang!” jawaban ibu ketika ditanya perihal kabarnya.

Kadang aku juga kebingungan, ketika ditanya mengenai kondisi ibu yang tidak berubah membaik. Kadang hanya perubahan sedikit, tetapi aku tidak tahu gejala apa itu, apakah kondisi akan membaik atau justru memperburuk.

***

“Ibu-ibu mari kita doakan semoga Ibu Yuli diberikan kesembuhan dari penyakitnya, diberi kekuatan untuk menahan rasa sakitnya, dan dari rasa sakit itu semoga digugurkanlah dosa-dosanya,” doa yang terucap dari Ustadzah Iis Mulya membuat tangisan ibu pecah di majelis pengajian itu.

Kami yang berada di acara itu, tak dapat lagi menahan air mata kami melihat ibu menangis terisak-isak. Aku tahu, ibu menyadari ada banyak orang yang menyayanginya, yang senantiasa mendampinginya, yang senantiasa mendoakan untuknya, dan yang selalu menyertainya. Tetapi ia sulit untuk menahan rasa sakit yang di deritanya. Lukanya telah menjalar terlalu dalam, bahkan mengenai jiwanya.

Aku pernah mengiriminya surat  untuk membantu membuatnya positif. Aku banyak mencantumkan hadits-hadits perihal rasa sakit. Bahwa rasa sakit yang dideritanya bisa menggugurkan dosanya. Aku mencoba membuatnya sabar dan ikhlas akan penyakit itu. Aku berusaha mengingatkannya, bahwa rasa sakit ini adalah bukti Allah mencintai dirinya. Tetapi aku tahu, kesabaran manusia ada batasnya.

“Ibu mencoba ikhlas, Teh! Tapi kenapa begitu susah?” suatu hari ibu berkata demikian, air matanya meluncur deras.

“Ibu harus minta sama Allah! Minta kesabaran itu, mintalah keikhlasan itu! Kalau ibu berpikiran negatif, kapan ibu akan sembuh! Khusnudzan sama Allah, Bu!” aku mencoba mengingatkannya.

Kesabaran manusia memang ada batasnya. Aku hanya mencoba meringankan rasa jenuh ibu dalam penyakit ganasnya itu.

Tangis ibu masih mewarnai suasana pengajian pernikahanku, meski acara telah selesai. Para tamu bersalaman dengan kami. Mereka mengucapkan selamat kepada ibu, karena anak sulungnya akan menikah. Mereka juga mendoakan ibu, untuk tetap kuat menahan penyakitnya. Bagiku pernikahanku bagai sebuah ironi. Satu sisi adalah sebuah kebahagiaan bagi kami, tetapi sisi yang lain, penyakit ibu semakin parah.

***

Hari itu tiba. Aku berdoa semoga semuanya berjalan lancar, juga semoga ibuku bisa menyaksikan pernikahanku meski hanya di akad saja. Lebih baik ia beristirahat, daripada kondisinya memburuk.

Gugup, bahagia dan was-was menyelimuti perasaanku. Ibu masih kuat berjalan meskipun perlahan, untuk menyambut calon besannya dari seberang pulau. Aku yakin ibu akan baik-baik saja. Semoga.

***

Tak terasa, acara akad dan resepsi pernikahan pun selesai. Ibu mendampingiku di pelaminan selama dua jam. Kadang ia bergantian dengan tanteku untuk menyambut tamu. Ia hanya bisa duduk sambil bersalaman, sambil berusaha tersenyum menyapa para tamu, meskipun ia harus menahan perihnya luka yang dideritanya. Bapak, ibu, dan kedua adik perempuanku pulang lebih dahulu sebelum acara benar-benar selesai. Tubuh ibu sudah tak kuat lagi untuk bertahan di acara pernikahanku, ia butuh istirahat.

“Aduuh….sakit! Sakit, kepalanya sakit! Aduuuh!!” teriak ibu malam itu, malam pernikahanku. Kami semua sudah berkumpul di rumah, termasuk suamiku yang pada saat itu aku sedang berusaha akrab dengannya, lelaki yang begitu asing denganku.

Aduuuh!! Punggungnya pegel, ga enak duduknya!” lagi ibu berteriak dengan ujarannya yang menurutku berbeda dari biasanya.

“Aduuuh, sakit!”

            Kamar ibu sudah penuh oleh kami, keluarganya. Aku tak dapat menahan air mataku, melihat kondisi ibu yang berbeda dari biasanya. Ibu tak pernah seperti ini sebelumnya. Aku mengelus pundaknya.

“Teteh pergi aja! Kasihan itu suaminya nunggu. Udah ga usah mikirin ibu! Ibu mah disini banyak yang nolong. Kamu harus nurut sama suami ya, Teh! Jadi istri yang berbakti sama suami. Udah sana pergi aja, jangan khawatirkan ibu!”

            Aku hanya bisa menangis, menciumnya, dan berpamitan padanya malam itu.

***

“Bu, kok perut teteh ga enak ya? Kaya mual gitu di dalem!” ujarku ketika menunggui ibu berbaring di atas kasur.

Ibu baru saja pulang dari rumah sakit. Dokter menyarankan ibu untuk segera melakukan kemoterapi karena kankernya sudah stadium lanjut. Hanya saja kondisi kesehatan ibu harus sudah stabil begitu melakukan kemoterapi. Ini bagian yang sulit.

“Bisa jadi hamil, Teh! Tapi nanti tunggu aja, haidnya telat atau engga!” jawab ibu.

***

Siang itu, ibu kembali dibawa ke rumah sakit. Hanya saja rumah sakit yang berbeda. Setelah beberapa hari yang lalu sempat terjadi perdebatan karena salah satu rumah sakit negeri tidak menerima ibu. Sang dokter tak sanggup menangani kasus penyakit ibu yang sudah begitu memburuk.

Aku memiliki asa bahwa mungkin ibu bisa sembuh setelah ini. Kami menjenguknya. Tetapi fakta menunjukkan hal yang berbeda, hingga mengubur asaku. Aku hanya berharap yang terbaik kepada Allah.

Kondisinya, tak jauh berbeda. Tingkat kesadaran ibu sudah melemah. Ia banyak lupa dengan orang-orang yang dikenalnya. Pendengarannya pun sudah menurun. Ia sering marah-marah ketika kami melakukan sesuatu yang tidak disenanginya. Kondisinya seperti anak kecil. Pandangannya lurus dan begitu kosong.

“Bu, ini teteh! Maafin teteh ya, Bu! Belum bisa bahagiain ibu!” Bisikku padanya.

“Jagain adik-adik ya, Teh!” ucapnya lirih.

***

“Teh, ada telepon dari bapak! Katanya ibu ga sadarkan diri dari jam sepuluh pagi. Ada pendarahan dari dadanya! Kita ke rumah sakit sekarang ya?!” kabar dari tante mengejutkanku.

Aku segera memberitahu suamiku yang masih ada di kantornya. Kusuruhnya pergi langsung ke rumah sakit dan kita bertemu di sana.

“Yang kuat ya, Teh!” ujar bapakku lirih sambil memelukku seketika aku datang ke rumah sakit.

Aku langsung menghampiri ibuku yang masih tidak sadarkan diri sore itu. Kasur tempat ia berbaring dipenuhi darah. Aku hanya bisa berdoa dan menangis melihat kondisi ibu. Kulihat wajah bapakku. Matanya merah dan sembap dan wajahnya berminyak kusam. Aku tahu ia tidak beristirahat untuk menjaga ibu seharian penuh. Ia juga sedih dengan kondisi ibu saat ini.

Semua keluarga dan kerabat berdatangan sore itu. Mereka ingin mendoakan ibuku dan menuntunnya dengan ayat Al-Quran. Aku duduk di samping ibu. Kuperhatikan wajahnya sambil bertanya dalam hati, ‘ibu dimanakah kau sekarang?’

Tubuhnya yang bengkak mulai terasa dingin malam itu. Bukan karena dinginnya malam, tetapi dingin itu datang dari tubuhnya. Nafasnya dapat kami hitung tiga detik sekali. Kami terus berdoa dan membaca ayat-ayat Allah. Kemudian, bapak menarik tanganku, tangan kedua adikku, juga tangan suamiku. Ia taruh tangan kami di atas tangan ibu.

“Allaaah….Allaaah….Allaaah….!”

Kami mengucapkan lafadz Allah bersama-sama sambil terus mengeluarkan air mata. Kulihat ada air yang mengalir kecil dari mata ibuku, ia mendengarnya, ia mendengar ucapan kami yang menuntunnya. Hingga tak lama berselang, nafasnya terhenti.

Ibu telah pergi ke hadapan-Nya, meninggalkan semua orang yang mencintainya. Tetapi aku yakin, Allah lebih mencintainya sehingga Ia memanggilnya lebih dahulu.

 

*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DearMama yang diselenggarakan Nulisbuku.com dan Storial.co

Advertisements

Author:

a walker of the long journey seeking for the great last place in the eternal life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s