Posted in Catatan, It's ME, Uncategorized

Our Meeting

Entah kenapa ingin sekali menulis tentang hari-hari ketika aku dan suami pertama berkenalan, bertemu, dan akhirnya menikah. Mungkin karena awal tahun 2016 ini, banyak sekali teman-temanku yang sudah menemukan jodohnya, alhamdulillah… Jadinya serasa ingin mengulang masa-masa taaruf saat itu, hihi… Well, let me share a little story about us:

#140614

Sore itu, entahlah kenapa hati terasa begitu galau (eaa…). Curhatlah aku dengan seorang sahabatku tentang perasaan waktu itu, tentang cerita-cerita yang sempat terjadi di antara kami berdua, dan tentang masa depan.

Jujur saja, kala itu aku memang menargetkan menikah di tahun 2014. Namun, jodoh tak kunjung datang. Ikhtiar? Tentu ikhtiar, meski dengan sedikit kebodohan, ketakutan, dan kepolosan. Hanya saja, belum menemukan orang yang tepat. Aku banyak melakukan kesalahan. Kadang mengandalkan perasaan di awal, sehingga ketika bertemu dengan orang baru yang kurang diharapkan aku menutup diri. Atau berharap pada seseorang, tetapi orang yang dituju tidaklah menoleh. Tapi Allah menegurku. Luruskan niat, ikhtiar dan serahkan semua pada-Nya.

Terbesitlah ide dari sahabatku untuk mengenalkan seorang ikhwan, yang ia juga tidak mengenalkannya, tetapi beberapa waktu sebelumnya ada seorang kenalan meminta bantuan untuk mencarikannya seorang akhwat. Hehe…bingung ya?

Sebelumnya, aku sih sempat meng-kepo-in dia (read: skrg suamiku). Kalau dilihat secara fisik, saat itu aku belum tertarik. Tapi, time will help! Akhirnya, aku memberanikan diriku untuk coba bertaaruf dengannya. Sahabatku langsung menghubungi temannya agar aku bisa langsung dihubungkan dengan dia.

Langsung pada sore itu, kami (aku dan suami) berkenalan via Blackberry Messenger. Kami mengirimkan biodata diri yang lengkap, visi & misi dalam pernikahan, kegiatan sehari-hari, bahkan pengalaman berorganisasi, layaknya melamar pekerjaan. Sekilas membaca curriculum vitae miliknya, aku merasa kami ada kecocokan. Kami pun melanjutkan taaruf ini lewat chat untuk menanyakan lebih rinci terkail hal-hal yang dituliskan dalam CV atau perihal tentang pernikahan.

Dalam taaruf itu, kami menyamakan banyak persepsi, visi dan misi berumah tangga. Khawatir ketika berumah tangga nanti, ada kesalahpahaman atau ketidakcocokan. Pada awalnya aku tidak menaruh perasaan suka sedikit pun padanya. Aku lebih banyak menyerahkan semuanya pada Allah saja. Biarlah Allah yang menumbuhkan perasaan itu jika memang ia adalah yang terbaik. Jadi, slow down aja ^_^

#200614

Jumat malam menjadi awal pertemuan kami. Itulah saat aku pertama kali melihat dirinya. Kami memang tidak berhadap-hadapan. Aku hanya menyuguhkan secangkir teh di hadapannya dengan pandangan yang menunduk dan tangan yang bergemetaran hebat. Maklum saja, dia adalah laki-laki pertama yang datang ke rumah untuk menemui kedua orangtuaku, hehe… Setelah menyuguhkan teh aku pergi ke belakang, untuk mendengarkan percakapan mereka.

Pertemuan yang begitu singkat, tetapi setelah melihat dirinya secara langsung hatiku langsung menjawab mantap. Karena pada awalnya, aku merasa ragu. Namun, aku shalat istikharah meminta kejelasan pada Allah jika ia yang terbaik untukku, maka mantapkanlah hatiku pada hari itu. Namun, aku tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya. Aku penasaran, apakah ia akan melanjutkan taaruf ini atau menyudahinya setelah bertemu denganku?

#250614

Ia meminta izin untuk bertemu kembali denganku, karena hatinya merasa belum mantap denganku (setelah nikah dia cerita, hehe…). Rabu siang ia datang kepadaku untuk berbincang denganku secara langsung, tentu saja dengan ditemani ibuku. Karena kalau berdua-duaan, bisa bahaya itu ada setan mengganggu. Pertemuan singkat lainnya. Setelah pulang, ia langsung menghubungiku, kalau saat ini hatinya merasa cocok denganku (ciee…). Sore itu juga melalui chat, ia mengkhitbahku (meminang). Itu artinya, kami harus siap berkomitmen untuk menjaga hati dan pandangan satu sama lainnya dari yang lain.

#050714

Malam itu, bapakku mengundangnya untuk buka bersama di rumah sekaligus membicarakan tanggal pernikahan yang tepat. Bapak memang sudah menemukan tanggal yang pas untuk pernikahan kami, sehingga hal ini harus segera dibicarakan dengan orangtuanya yang berada di seberang pulau (Riau, Sumatera). Agar semua sepakat tanggal itu menjadi hari yang tepat untuk pernikahan kami.

*****

Mengurus pernikahan memang agak sedikit ribet. Mendatangi RT, RW, Lurah, kemudian KUA. Untung dia sudah memiliki KTP Bandung, jadi tidak perlu mendatangi kampung halamannya di sana. Ya, hari terasa cepat berlalu…tetapi bagi kami, hari-hari berjalan lambat, terasa lama sekali menuju hari H

*****

#110914

Hari-hari terasa menyibukkan dan melelahkan, karena aku sendiri yang mengurus secara langsung segala hal yang menyangkut pernikahanku. Mulai dari urusan cetak undangan (bahkan desain tetapi gagal), mencari vendor resepsi, membeli souvenir, memilih baju walimahan, mengurus berkas untuk KUA, menyiapkan seserahan (karena keluarga suamiku baru datang H-4), dll. Alhamdulillah fisikku tetap bugar.

Tanggal ini menjadi hari pertemuan pertamaku dengan calon mertuaku. Niatnya sih lamaran, tapi masa H-3 baru lamaran. Ya akhirnya sekedar silaturahim antar dua keluarga saja untuk mengenal satu sama lainnya.

#140914

The day is here. Malamnya, aku sama sekali tidak bisa tidur. Gugup iya, juga karena rumah kedatangan banyak saudara dari Purbalingga, yang membuat suasana malam jadi berisik. Ya, mungkin sekitar 2-4 jam akhirnya bisa tidur lelap.

Pukul 6 pagi, aku sudah berada di lokasi resepsi di Aula PSBJ FIB Unpad. Karena ibu dan bapak sudah lama mengabdi menjadi PNS di FIB, kami tidak perlu membayar sewa aula ini, alhamdulillah… Rasa gugupku mulai menjadi ketika mengenakan gamis akad dan sedikit riasan di wajah. Aku berusaha mungkin meminta kepada perias agar tidak membuat wajahku pangling. Ketika MC memberitahu bahwa keluarga mempelai pria sudah datang, suhu tubuh di tangan terasa dingin, tetapi daerah leher dan wajah terasa panas. I’m going to be married!

Hari ini adalah tepat tiga bulan kami saling mengenal dan akhirnya tiba di pelaminan. Cukup tiga bulan saja mengenal suamiku. Aku rasa tiga bulan juga cukup lama. Tidak sedikit pasangan yang mengenal satu sama lain kurang dari tiga bulan, tetapi mereka langgeng dan bahagia.

Di luar sana banyak pasangan yang mengenal bertahun-tahun baru kemudian menikah, tetapi rumah tangganya hancur berantakan. Lihat saja artis-artis!

Cukuplah Allah yang menjaga kemurnian cinta ini. Biarlah ia tumbuh pada saat yang tepat, hingga ia berbuah manis pada siapa pun yang memetiknya. Pernikahan bukan sekedar cinta, tetapi ada komitmen serta visi dan misi yang jelas agar pernikahan selalu dilandaskan sebagai ibadah kepada-Nya dan mencari ridho-Nya. Biarlah Allah yang menjaga cinta sejati ini hingga berujung di surga nanti.

Itu ceritaku, mana ceritamu? 😉

collage_20160126120052376
jaman pacaran setelah menikah XD

 

 

 

 

 

Advertisements

Author:

a walker of the long journey seeking for the great last place in the eternal life

2 thoughts on “Our Meeting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s