Posted in Segores Pena, Uncategorized

Sebingkai Cerita Tentangmu, Aku Rindu!

Rindu. Hanya ada satu kata yang kurasa saat ini. Ya, rindu!

***

“Teeeh…..” biasanya panggilan itu terdengar nyaring tiap waktu, menggema dalam sudut ruang jiwaku. Hingga kadang aku merasa kesal karena kenapa hanya aku saja yang dipanggil, bukan “Niiit….” atau “Leeen….”. Tetapi kadang aku berpikir, mungkin karena aku lebih bisa menolongnya dibandingkan kedua adikku.

***

Continue reading “Sebingkai Cerita Tentangmu, Aku Rindu!”

Advertisements
Posted in Segores Pena

G. A. L. A. U part 1

Malam begitu kelam mencekam. Dingin yang berangin menyapu setiap  lengkingan suara rintihan hewan-hewan malam. Gadis itu tampak tak bisa diam. Selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya, beberapa kali terlihat menggulung seperti mumi. Dalam balutan gelap ruangan tidurnya, kali ini ia menyingkirkan selimut merah dari wajahnya. Matanya menatap atap langit-langit berdebu di atasnya. Keringat bercucuran dari dahinya, padahal hembusan angin mampu menembus tirai jendela kamarnya. Ia mengambil nafas berkali-kali. Kemudian merubah posisi tubuhnya ke samping kanan, kiri, depan, dan kali ini berakhir dengan menenggelamkan wajah di bantal empuknya. Suhu panas masih mengalir dalam tubuhnya semakin panas dan panas. Hatinya bergejolak mendidih tetapi belum mencapai 100 derajat celcius.

Nanti juga lupa! Pekiknya dalam hati, ia meghela nafas. Akan tetapi, pikirannya kembali melayang. Uluran kain panjang yang jatuh hingga sampai ujung kaki, dilengkapi dengan balutan sehelai kain yang berayun tertiup angin, akan menambah parasnya menjadi berseri-seri. Nanti juga lupa! Omelnya lagi. Hingga rasa kantuk itu akhirnya menyapanya dalam hawa dingin yang membuat matanya terpejam hingga sang fajar tiba.

Pagi itu mentari telah bangun dan mulai memanjat sedikit demi sedikit. Gadis itu telah bersiap-siap untuk memulai aktivitasnya sebagai mahasiswa di salah satu universitas terfavorit. T-shirt abu dengan logo klub sepak bola kebanggaannya telah dikenakannya sejak pagi tadi. Tak lupa ia balutkan kerudung hitam untuk menutupi salah satu perhiasan miliknya.

“Bu, Pak! Berangkat dulu ya?” pamitnya tanpa bersalaman kepada orang tuanya.

“Hati-hati ya Teh!” kata ibu yang juga sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja.

“Kamu bawa motor?” tanya bapaknya yang sudah terlihat rapih, wangi parfum menyengat bapaknya membuat gadis itu mengkibas-kibas tangannya di hadapannya.

“Iya, Pak! Nanti siang juga udah pulang kok!” jawabnya.

“Ya udah, hati-hati!”

Gadis itu tampak terlihat cuek dengan setelan yang menurutnya ‘gue banget’. Celana jeans lurus memang sangat cocok dipadukan dengan t-shirt kebanggaannya, yang seharusnya dipakai oleh anak laki-laki seusianya. Namun begitulah ia, gadis yang bernama seperti laki-laki itu memang begitu nyaman dengan gayanya yang sedikit tomboy, meski sangat kontradiktif sifatnya yang begitu pemalu. Helm hitam milik bapaknya itu kini menutupi seluruh kepalanya. Ia balutkan sarung tangan yang akan melindungi punggung tangannya dari sengatan matahari yang membakar. Motor Honda supra X kini bergerung. Dua roda berputar menapaki aspal yang tak pernah rata, merekam jejak-jejak kehidupan masa dulu, kini, dan nanti.

***

“Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikumsalam! Bu, bawa apa?” tanya gadis itu seraya menghampiri kedua orangtuanya yang baru saja pulang bekerja.

“Ah, enggak bawa apa-apa! Maklum udah akhir bulan!” jawab ibunya terlalu jujur, membuat anak pertamanya itu kecewa dalam hatinya.

“Bu, bu! Teteh mau lihatin sesuatu!” kata gadis itu membuntuti ibunya ke dalam kamar.

“Apa itu?” tanya ibunya heran.

Gadis itu terburu-buru menapakki anak tangga, menuju kamarnya di lantai atas. Ia mengambil satu kantong hitam yang disimpannya di dalam tasnya. Ia kembali menuruni anak tangga dan kembali menghampiri ibunya.

“Bu, lihat deh!”

Gadis itu dengan sumringah mengambil sesuatu dari dalam kantong plastic hitam yang ia bawa. Sebuah gaun kotak-kotak berwarna merah marun dengan kombinasi katun pink ditunjukkannya di hadapan sang ibu yang sedang merapikan pakaian rumahnya. Gaun itu bukanlah gaun biasa. Gaun itu adalah sebuah gamis. Gamisnya pun bukan gamis biasa. Itu adalah gamis syar’I atau sebuah jilbab, istilah yang dikenalnya setahun lalu.

“Dari siapa itu?” tanya ibunya keheranan.

“Ini dikasih sama teteh mentoring, Bu!” jawabnya sambil melihat dirinya di kaca, berusaha mencocokkan tubuhnya dengan jilbab hasil pemberian kakak mentoringnya itu.

“Lucu yah?” kata ibu.

“Iya! Bu, nanti beliin lagi baju yang kayak ginian aja ya?” pintanya, matanya berbinar.

“Iya, insya Allah nanti kalau ada rezeki ibu belikan!”

Gadis itu tersenyum, masih di depan cermin lemari milik ibunya. Wajahnya berseri-seri. Ia teringat setahun lalu, ketika hatinya gundah gulana memikirkan sebuah ayat yang berhasil membuatnya galau setengah mati.

Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutup jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang — (Al-Ahzab: 59)

Namun kali ini, hatinya telah mantap untuk memutuskan bahwa ia akan menutup auratnya secara sempurna yaitu dengan mengenakan jilbab dan kerudungnya secara juyub. Ia sangat tahu konsekuensi atas pilihannya itu, yang berarti ia harus menanggalkan semua t-shirt sepak bola kebanggaannya dan juga celana jeans miliknya. Jelas ini merupakan pilihan berat baginya, tetapi ia telah mempasrahkan dirinya dan mengikuti kata hatinya untuk tunduk pada Sang Pemilik Ayat tersebut.

Hari-hari terus berjalan, dunia pun terus berputar. Pilihan demi pilihan telah diputuskan, kini sang gadis masih terus memperbaiki dirinya untuk tampak lebih cantik di mata-Nya. Semoga ia selalu istiqomah dalam setiap keputusan terbaik yang telah dipilihnya.

*maaf ya ilustrasinya pake danbo aja biar unyu ^_^, hehe

Posted in Segores Pena

Repost : Metafora

Hari itu, matahari begitu panas teriknya.  Apalagi sambil berjalan di atas pasir berkilauan layaknya berdiri di atas serpihan bara api. Angin siang membelai lembut kulit di pipiku yang dari tadi terlihat kusam dan berminyak. Aku melihat ke segala penjuru arah, seluas mata memandang.  Langit biru berhias awan putih yang tipis, menemani gagahnya matahari siang itu. Mereka seolah tak ingin menyingkir atau pun berkumpul bersama menghalangi raja siang di atas singgasananya yang tinggi di langit luas.  Ombak pun terlihat tenang mendukung suasana hari itu. Mereka berkejaran dan berlomba menghampiri diriku. Kucoba menyingkir dari kejaran mereka, hanya saja aku tak bisa. Mereka begitu cepat berlari, hingga akhirnya pakaian aku pun menjadi basah. Aku tertawa lepas, selepas angin berhembus yang menerbangkan layang-layang. Aku kembali berlari mengejar ombak, menggapai sisi lautan, hanya saja aku tak berani. Aku terdiam di atas batu karang besar di bawah batuan tebing. Kuhampiri sebuah pohon besar di sisi tebing, aku terduduk sambil melihat pemandangan siang itu. Aku tersenyum melihat pemandangan ini. Perasaan penatku selama ini hilang seketika dengan obat alami dari alam ini. Aku termenung.

Continue reading “Repost : Metafora”

Posted in Segores Pena

Repost: Catatan Sang Narator

Catatan Sang Narator sebenarnya sudah pernah aku publish di salah satu blog milikku dan juga di kompasiana. Namun, karena blog tersebut sudah aku hapus, jadi lebih baik aku repost di sini aja ya, biar postingnya tambah penuh, hehe 😀

Catatan Sang Narator

Hmm…di luar angin cukup kencang bertiup. Awan pun gelap bergulung tebal, aku tak tahu hendak kemana awan-awan itu pergi, semoga saja bukan di atas langit atapku. Anak-anak kecil berlarian kesana kemari, mereka berteriak seolah takut pada cuaca yang sedang berkunjung. Tetapi aku heran, jika mereka takut, mengapa mereka masih berkeliaran di luar? Bukankah berada di dalam rumah itu lebih baik? Menyembunyikan ketakutan kita pada kekuatan alam di luar sana, ya seperti diriku! Aku memang penakut, tapi aku bukan pengecut! Ya, lebih baik aku berada di bawah atapku, sambil duduk di depan alat yang bisa membawaku ke alam lain yang bisa kukuasai. Alam yang bisa membuatku melakukan banyak hal, tidak peduli apa kata orang, karena mereka tidak bisa menguasainya. Hanya aku yang bisa! Hanyalah diriku! Bukankah begitu?

Continue reading “Repost: Catatan Sang Narator”

Posted in Segores Pena

Prolog: Sang Penggugat

 

            Jujur saat ini aku tak tahu harus berbuat apa. Apakah aku harus melabrak peraturan yang ada ataukah aku harus tetap menunggu dalam diamku. Di zaman kebebasan seperti sekarang ini mungkin banyak orang sudah melabrak batas-batas yang ada. Keberanian mereka tunjukkan tanpa memperhatikan lagi etika masyarakat. Jujur saja, aku salut dengan para pemberani itu. Namun sangat disayangkan, keberanian hanya mereka tunjukkan untuk perkara yang salah, menurutku, menurut agamaku. Manusia sekarang mungkin banyak diantaranya mendewakan kelogisan berpikir dan rasionalitas. Sehingga, ketika kita akan memutuskan suatu perkara maka kita harus bisa memandang dari banyak sudut pandang yang berbeda. Tidak salah memang, kita tak bisa egois. Tetapi bagaimana jika Tuhan yang egois? Apakah Ia berhak untuk egois? Bagiku Ia sangat mungkin berhak untuk egois karena Dia Yang Mahatahu.

Sebagian orang percaya, bahwa Tuhan tidak bisa egois. Karena manusia sangat beragam, mereka memiliki kepercayaan, pemikiran, dan kepentingan yang berbeda. Oleh karena itu, mereka percaya bahwa Tuhan tak boleh egois. Lahirlah sekulerisme, manusia yang menganut kepercayaan ini menganggap bahwa Tuhan tak bisa ikut campur dalam kehidupan manusia. Mereka berpikir bahwa kehidupan ini diciptakan untuk mereka sendiri, sehingga mereka berhak mengaturnya tanpa campur tangan dari Sang Pencipta. Agama bagi mereka adalah sisi kehidupan khusus yang tak bisa dibawa ke dalam sisi kehidupan lainnya, dengan anggapan bahwa agama adalah sesuatu yang suci. Memang, agama adalah sesuatu yang suci karena datang dari langit, bukan? Lalu apakah pantas dicampuradukkan dengan beragam kehidupan manusia. Bukankah agama juga adalah bagian dari kehidupan yang turut serta membuat manusia berpikir secara jernih, sehingga ketika manusia bertingkah laku akan sesuai dengan apa yang diatur oleh agama itu. Dan bukankah agama selalu mengajarkan kebaikan, dan melarang manusia untuk mendekati keburukan, bukankah itu baik? Lalu mengapa banyak manusia melabrak batas itu? Apakah mereka ingin menentang Tuhan mereka? Ataukah mereka sudah tak percaya lagi dengan Tuhan, seperti para atheist, karena mereka sudah terlalu jauh dari batas. Entahlah! Alasan mereka mungkin logis. Namun, bisakah Tuhan menerima alasan itu? Biarkan Tuhan yang menjawab!

noted by : Rey

***

picture by luna piena (from deviantart.com)
picture by luna piena (from deviantart.com)

 

Posted in Metaphors, Segores Pena

Awan Malam

Wanita itu berdiri di sana, di bawah sebuah pohon rindang yang menaunginya ketika hujan rintik-rintik mulai turun ke bumi. Pandangannya menatap ke langit gelap berselimut awan tebal. Hujan memang tidak turun deras, dan wanita itu sengaja berhenti di bawah pohon itu hanya untuk menikmati suasana. Ia terus memandangi langit. Tanpa ada yang tahu mengapa ia terus memandanginya?

Awan tebal berkumpul berarak mengikuti arus angin yang bertiup, tetapi ia tidak pernah menyingkir. Mereka terus bergerak rapat, bersama-sama menghalangi pemandangan langit malam di luar angkasa sana. Hujan itu berhenti. Namun wanita itu tidak cepat-cepat pergi dari tempatnya berdiri. Ia masih setia di sana. Ia melihat jam tangannya, hari sudah semakin larut. Akan tetapi ia terus berdiri sambil terus memandangi langit gelap itu, entah apa yang dicarinya di atas sana? Ia pun menghela nafas. Lama sudah ia tertegun dalam kesendirian. Suasana malam bertambah dingin, mencekam, dan menumbuhkan kecemasan dalam hatinya. Ia kembali melihat jam tangannya, sudah semakin larut dan larut.

Guyuran hujan menghujam ke bumi. Awalnya mungkin rintik-rintik saja, tetapi kali ini hujan deras yang turun. Sang pohon sudah tak bisa melindunginya lagi. Namun, wanita itu terus memandangi langit dan tidak apa-apa disana, kecuali langit malam yang masih terhalangi oleh gumpalan awan. Ia menyeka wajahnya dari basahnya air hujan. Ia menghela nafas, kecewa. Hingga akhirnya ia pun berlari di antara kumpulan air yang menghujam tubuhnya, dan terus berlari tanpa kembali menatap gelapnya langit malam.

Posted in Metaphors, Segores Pena

Hope of The Tree

The tree keeps growing, higher and higher. I remember when at first I saw the little sprout grew on the ground. It was still green and fresh. And now it’s getting bigger and higher. It has powerful trunk with strong root. But the branches are still unsteady when rough wind blows. Sometime the leaves are too weak, so they just follow where the wind blows and fell in to the ground and finally they’re broken. When the sunshine comes, the tree gets their energy to live and make it more steady on the ground.

It is the time to bloom. Some flowers come up to show their beauty. They give colorful life to the tree, and the scent is brought to give some cheerfulness. Together they are dancing with the wind, under the moonlight, the sunshine, the rain, and some bright stars. Sometimes, they invite some beautiful butterflies and birds to sing a song together in the morning. Together with full of hope for better future.

Then, now the flowers bear fruits with the special taste. The tree hopes for someone would taste it and say it is great. The tree is too full of hope, so it keeps bearing fruit, more and more. However, the time keeps going on, but no one visits it to pick it, although only one. The tree only hopes for the one who will carry its fruits. But all are just hopeless. The fruits are now getting rot. They fell one by one to the ground. No one will ever taste it. Whereas, the tree just hopes for one.

The seasons keep changing, and the tree will never ever give up. It keeps growing, still to make the fruits, still with the same hope. Although maybe the fruits will be rotten again, but the tree will never stop to bloom and make some fruits with the greatest taste. Still, it keeps waiting for the one who will visits.

ng

Posted in Segores Pena

Story of the Dumb : World

I will be proud to introduce myself here. I was created by The One I regard so much; because of Him I am still alive in this universe. Yet still, I have so many things of lacks just like other creatures. I am not smart even I don’t have brain to keep memories, I’d like to say thanks to whom always write all my memories, even though they write such of lies. I am not the one who knows everything, but since there are many things happen in every part of my body, I should say that I know a lot.

Continue reading “Story of the Dumb : World”

Posted in Segores Pena

Prolog: Rinduku pada Hujan

rain_by_BlackMagicW

I wanna feel the rain again
I wanna feel the water on my skin
And let it all just wash away 
In a downpour
I wanna feel the rain

[Downpour by Backstreet Boys]

Setahun sudah kemarau melanda negeri. Tak ada satu tetes pun air yang turun dari langit. Tak ada tanda-tanda pula, musim akan berganti. Angin yang berhembus tak pernah membawa kabar gembira dari langit. Hanya ada hembusan yang terasa kering dan hampa.

Continue reading “Prolog: Rinduku pada Hujan”