Posted in Catatan

Repost : Untukmu, Untukku

Aku kadang bertanya-tanya pada diri sendiri. Ketika jalan lurus itu sudah terbentang di depan mata, lalu kenapa malah tubuhnya meminta untuk mundur? Padahal hatinya yakin bahwa jalan itu memang lurus menuju tujuan yang selama ini ia inginkan. Kaki-kaki itu hanya tinggal melangkah ke depan menuju masa depan yang pasti cerah sesuai yang ia yakini dalam hatinya. Hanya saja, mengapa godaan jalan di belakang tubuh itu begitu besar sehingga seolah-olah masih ada seutas benang yang belum terputus, ternyata dengan sangat kuat bisa menarik tubuhnya itu. Atau bahkan, kaki-kaki mereka sudah melangkah di jalan yang pasti menyelamatkan dirinya, tapi ternyata benang yang tidak terlihat itu menariknya mundur dan membawanya berjalan di atas jalan yang justru menyesatkan dirinya. Heran, aku heran!

Memang semua itu pilihan! Pilihan saya atau diri Anda sendiri. Anda bebas memilihnya sesuai dengan keyakinan Anda! Tapi bukankah ada sebuah petunjuk yang bisa mengantarkan Anda pada sebuah pilihan yang pasti?! Lalu, mengapa banyak sekali orang yang masih meragukan kebenarannya. Indera manusia dan akal manusia memang terbatas, dan mereka terlalu banyak tertipu oleh pandangan dunia yang kadang cukup memuaskan ego untuk melakukan pembenaran terhadap apa yang mereka yakini. Atau justru mereka menafikan kebenaran itu, untuk mengalihkan perhatiannya kepada yang lain, sesuatu yang membuat mereka terlupa bahkan sengaja dihilangkan hanya untuk memuaskan hasrat terdalam dari jiwanya.

Kadang itu pula yang muncul dalam diri saya sendiri. Bukan karena keragu-raguan atau apalagi ketidakpercayaan. Tetapi terpedaya dalam tipuan itulah justru yang sering kali muncul, diiming-imingi oleh ketidakpastian, didorong oleh hasrat terpendam yang mengikat, dibuai oleh sedapnya pemandangan yang terlihat oleh mata yang sangat terbatas jarak pandangnya. Pemberontakan diri kadang muncul dalam suasana tidak terduga. Bahkan terbesit pula keinginan dalam sisi lain dari jiwa ini, untuk menembus terowongan gelap yang membutakan mata. Astaghfirullahaladzim.

Life is choice! Kata-kata itu begitu terngiang-ngiang dalam lubuk hati terdalam. Pilihan yang sudah kita ambil memang beresiko, pilihan apa pun itu! Apalagi ketika diri ini mengingat bahwa ini memang permintaan dari sebuah jiwa yang kosong tak berisi kepada Sang Maha Pemberi. Lalu, mengapa aku harus membuang pemberian dari-Nya?! Rugi sekali diri ini! Lalu ketika Anda berada dalam ketidakpastian, atau kebimbangan, mengapa Anda tidak meminta padaNya? Bukankah Anda yakin, bahwa Ia akan selalu menolong Anda? Minta saja pada-Nya!

Waktu demi waktu terus berlalu, seiring dengan itu, daun-daun yang layu pun mulai berguguran ke atas tanah, menjadi sesuatu yang busuk, dan akhirnya hancur berkeping-keping terbawa angin. Bagiku, menjadi sebuah daun hijau segar yang tinggal bersama pohon adalah pilihan. Aku tidak mau menjadi daun layu yang kemudian rapuh dan akhirnya membusuk di atas tanah. Ini semua adalah pilihan. Dan aku akan meminta kepada-Nya kembali, agar aku senantiasa menjadi daun hijau segar yang tak akan pernah lepas dari pohonnya sekuat apapun angin berhembus menggoyangkan tubuh sang pohon.

Begitu pula dengan Anda. Pilihlah satu. Tidak pernah ada abu-abu dalam kehidupan ini. Anda harus memilih menjadi putih, atau hitam! Tidak bisa abu-abu! Ingatlah bahwa setiap pilihan akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan-Nya. Melangkahlah secara pasti, jangan pernah takut, karena Ia selalu mengiringi langkah-langkah kecil kita, menghitung berapa banyak jejak-jejak kita di jalan-Nya, dan akhirnya Ia juga yang akan menyediakan tempat peristirahatan bagi kita di ujung jalan-Nya. Mari kita melangkah bersama wahai saudaraku!

Posted in Catatan, Motivasi

Catatan Kecil untuk Pengemban Dakwah

Jalan dakwah memang bukanlah jalan bebas hambatan yang lurus dan datar, tetapi ia adalah jalan yang terjal dan penuh dengan cobaan serta hambatan. Orang-orang yang memilih untuk berjalan di atasnya adalah orang pilihan. Mereka dengan tekad bulat dan niat lillahi ta’ala memilih jalan ini demi menyongsong masa depan gemilang yang tak bisa mereka lihat, tetapi mereka yakini. Itulah salah satu kekuatan mereka dalam menjalani hidupnya.

Namun, banyak di antara mereka, para pengemban dakwah teralihkan, terbuai, dan tertipu oleh indahnya dunia yang sementara saja. Hingga akhirnya, daun-daun rapuh (ibarat untuk mereka) jatuh berguguran ke tanah ketika angin sepoi-sepoi meniupnya lembut. Sementara lainnya tetap kokoh dan tegar berdiri di atas keyakinan akan kemenangan yang dijanjikan Sang Pencipta.

Sekali lagi, jalan dakwah adalah jalan yang penuh dengan cobaan. Di sinilah pengorbanan sangat dibutuhkan ibarat baju besi yang kokoh dalam menghadapi terpaan cobaan. Waktu, pikiran, tenaga, perasaan, harta, bahkan nyawa jadi taruhannya.

Adakalanya, kecemasan melanda ketika diri ini dilanda cobaan kecil. Wajar memang. Bagi pengemban dakwah di negeri ini mungkin pengorbanan mereka belum sepanas para pengemban dakwah di luar negeri sana. Namun, Allah menjanjikan hal yang sama ketika kita sama-sama berkorban untuk jalan-Nya.

Fitnah keji, cemoohan, pengabaian, dan ditinggalkan mad’u biasa menjadi hembusan badai yang melanda para pengemban dakwah di tanah ini. Namun, tak usah khawatir dan tak usah cemas, karena yang kita suarakan adalah kebenaran (haq). Membiasakan khusnudzan kepada Allah tentunya membuat diri ini lebih kuat. Berusahalah untuk menjalani proses yang terbaik dalam berjuang di jalan-Nya, karena kita tidak pernah mengetahui bagaimana hasil yang akan kita dapat. Tawakal kepada-Nya adalah kunci dari semakin kuatnya kita berjalan di jalan dakwah ini.

Mungkin sering kali kita kecewa karena ternyata kemenangan itu belum datang. Jangankan tegaknya Islam di bumi Allah, untuk mengajak orang berjuang bersama pun masih sulit. Janganlah kecewa apalagi putus asa. Mungkin Allah menginginkan pengorbanan yang lebih dari kita untuk semakin menguji kita dan justru dengan itu Allah akan menaikkan derajat kita di mata Allah. Ya, Allah tahu bahwa kita bisa melewati itu semua. Karena Allah tak akan mungkin memberikan cobaan lebih dari kemampuan hamba-Nya.

Ya, mungkin kata-kata di atas hanyalah sedikit penyemangat dan motivasi bagi para pengemban dakwah termasuk diri ini yang begitu rapuh di hadapan-Nya. Yakinlah kemenangan itu dekat hingga tangan kita bisa meraihnya. Namun, itu hanyalah persoalan waktu saja, hanya Allah yang tahu. Yang harus kita lakukan adalah memberikan yang terbaik untuk deen ini.

Semoga Allah selalu menyertai langkah-langkah para pengemban dakwah Islam ideologis. Aamiiin~ 🙂

Posted in Catatan, Opini

Real Action with Talk!

Ada hal yang menarik ketika kita ingin mengkritisi mereka yang terus saja berkomentar mengenai cara gerak sebuah kelompok jamaah, yang mari kita sebut saja terus mengkritisi kebijakan pemerintah. Memang, kelompok dakwah saat ini memiliki metode yang berbeda-beda dalam gerak dakwahnya, apakah kita harus hormati, entahlah. Jika memang metode dakwah itu tidak bertentangan dengan apa yang Rasulullah saw. ajarkan, that’s fine, really fine! Tetapi jika bertentangan, biar saja Allah yang menunjukkan.

Continue reading “Real Action with Talk!”