Posted in Segores Pena

Repost : Metafora

Hari itu, matahari begitu panas teriknya.  Apalagi sambil berjalan di atas pasir berkilauan layaknya berdiri di atas serpihan bara api. Angin siang membelai lembut kulit di pipiku yang dari tadi terlihat kusam dan berminyak. Aku melihat ke segala penjuru arah, seluas mata memandang.  Langit biru berhias awan putih yang tipis, menemani gagahnya matahari siang itu. Mereka seolah tak ingin menyingkir atau pun berkumpul bersama menghalangi raja siang di atas singgasananya yang tinggi di langit luas.  Ombak pun terlihat tenang mendukung suasana hari itu. Mereka berkejaran dan berlomba menghampiri diriku. Kucoba menyingkir dari kejaran mereka, hanya saja aku tak bisa. Mereka begitu cepat berlari, hingga akhirnya pakaian aku pun menjadi basah. Aku tertawa lepas, selepas angin berhembus yang menerbangkan layang-layang. Aku kembali berlari mengejar ombak, menggapai sisi lautan, hanya saja aku tak berani. Aku terdiam di atas batu karang besar di bawah batuan tebing. Kuhampiri sebuah pohon besar di sisi tebing, aku terduduk sambil melihat pemandangan siang itu. Aku tersenyum melihat pemandangan ini. Perasaan penatku selama ini hilang seketika dengan obat alami dari alam ini. Aku termenung.

Continue reading “Repost : Metafora”

Posted in Segores Pena

Repost: Catatan Sang Narator

Catatan Sang Narator sebenarnya sudah pernah aku publish di salah satu blog milikku dan juga di kompasiana. Namun, karena blog tersebut sudah aku hapus, jadi lebih baik aku repost di sini aja ya, biar postingnya tambah penuh, hehe 😀

Catatan Sang Narator

Hmm…di luar angin cukup kencang bertiup. Awan pun gelap bergulung tebal, aku tak tahu hendak kemana awan-awan itu pergi, semoga saja bukan di atas langit atapku. Anak-anak kecil berlarian kesana kemari, mereka berteriak seolah takut pada cuaca yang sedang berkunjung. Tetapi aku heran, jika mereka takut, mengapa mereka masih berkeliaran di luar? Bukankah berada di dalam rumah itu lebih baik? Menyembunyikan ketakutan kita pada kekuatan alam di luar sana, ya seperti diriku! Aku memang penakut, tapi aku bukan pengecut! Ya, lebih baik aku berada di bawah atapku, sambil duduk di depan alat yang bisa membawaku ke alam lain yang bisa kukuasai. Alam yang bisa membuatku melakukan banyak hal, tidak peduli apa kata orang, karena mereka tidak bisa menguasainya. Hanya aku yang bisa! Hanyalah diriku! Bukankah begitu?

Continue reading “Repost: Catatan Sang Narator”

Posted in Segores Pena

Prolog: Sang Penggugat

 

            Jujur saat ini aku tak tahu harus berbuat apa. Apakah aku harus melabrak peraturan yang ada ataukah aku harus tetap menunggu dalam diamku. Di zaman kebebasan seperti sekarang ini mungkin banyak orang sudah melabrak batas-batas yang ada. Keberanian mereka tunjukkan tanpa memperhatikan lagi etika masyarakat. Jujur saja, aku salut dengan para pemberani itu. Namun sangat disayangkan, keberanian hanya mereka tunjukkan untuk perkara yang salah, menurutku, menurut agamaku. Manusia sekarang mungkin banyak diantaranya mendewakan kelogisan berpikir dan rasionalitas. Sehingga, ketika kita akan memutuskan suatu perkara maka kita harus bisa memandang dari banyak sudut pandang yang berbeda. Tidak salah memang, kita tak bisa egois. Tetapi bagaimana jika Tuhan yang egois? Apakah Ia berhak untuk egois? Bagiku Ia sangat mungkin berhak untuk egois karena Dia Yang Mahatahu.

Sebagian orang percaya, bahwa Tuhan tidak bisa egois. Karena manusia sangat beragam, mereka memiliki kepercayaan, pemikiran, dan kepentingan yang berbeda. Oleh karena itu, mereka percaya bahwa Tuhan tak boleh egois. Lahirlah sekulerisme, manusia yang menganut kepercayaan ini menganggap bahwa Tuhan tak bisa ikut campur dalam kehidupan manusia. Mereka berpikir bahwa kehidupan ini diciptakan untuk mereka sendiri, sehingga mereka berhak mengaturnya tanpa campur tangan dari Sang Pencipta. Agama bagi mereka adalah sisi kehidupan khusus yang tak bisa dibawa ke dalam sisi kehidupan lainnya, dengan anggapan bahwa agama adalah sesuatu yang suci. Memang, agama adalah sesuatu yang suci karena datang dari langit, bukan? Lalu apakah pantas dicampuradukkan dengan beragam kehidupan manusia. Bukankah agama juga adalah bagian dari kehidupan yang turut serta membuat manusia berpikir secara jernih, sehingga ketika manusia bertingkah laku akan sesuai dengan apa yang diatur oleh agama itu. Dan bukankah agama selalu mengajarkan kebaikan, dan melarang manusia untuk mendekati keburukan, bukankah itu baik? Lalu mengapa banyak manusia melabrak batas itu? Apakah mereka ingin menentang Tuhan mereka? Ataukah mereka sudah tak percaya lagi dengan Tuhan, seperti para atheist, karena mereka sudah terlalu jauh dari batas. Entahlah! Alasan mereka mungkin logis. Namun, bisakah Tuhan menerima alasan itu? Biarkan Tuhan yang menjawab!

noted by : Rey

***

picture by luna piena (from deviantart.com)
picture by luna piena (from deviantart.com)

 

Posted in Segores Pena

Prolog: Rinduku pada Hujan

rain_by_BlackMagicW

I wanna feel the rain again
I wanna feel the water on my skin
And let it all just wash away 
In a downpour
I wanna feel the rain

[Downpour by Backstreet Boys]

Setahun sudah kemarau melanda negeri. Tak ada satu tetes pun air yang turun dari langit. Tak ada tanda-tanda pula, musim akan berganti. Angin yang berhembus tak pernah membawa kabar gembira dari langit. Hanya ada hembusan yang terasa kering dan hampa.

Continue reading “Prolog: Rinduku pada Hujan”