Posted in Hadits

Repost – The Power of True Love

“Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.”

(HR. Bukhari dan Muslim)
Ada peribahasa “banyak jalan menuju Roma”. Peribahasa ini mengandung arti bahwa begitu banyak cara untuk meraih impian dan harapan. Begitu pula bagi kita seorang Muslim, “banyak pintu menuju surga”! Ya, begitu banyak cara yang dapat dilakukan oleh para Muslim untuk mendapatkan tiket ke surga. Tapi tentunya tidak mudah. Butuh perjuangan dan pengorbanan. Perbuatan apa saja itu? Tentu saja harus sesuai dengan apa yang telah diperintahkan dan jauh dari larangan Allah swt. Selain itu, untuk mendapatkan tiket surga tidak cukup hanya sebatas ibadah wajib saja! Kita perlu menambah tabungan amal kita melalui amalan sunah yang dicontohkan oleh Rasulullah.
Hanya saja, apa-apa yang kita lakukan haruslah berasal dari kesadaran diri kita sendiri serta niat yang lurus karena Allah saja, dan hal itulah yang pada akhirnya akan mengundang datangnya ridho dari Allah swt. Akan tetapi kadang-kadang, kesadaran atau niat yang lurus itu tidak datang ketika kita tidak mencintai Allah. Oleh karena itu, sebagai hamba, sudah seharusnya kita menaruh cinta kita pada Sang Pemilik Cinta, yaitu Allah swt.
Kekuatan cinta tunggal atau Mahabatullah itu merupakan kekuatan cinta tertinggi di antara kekuatan cinta lainnya. Tentu saja! Kita mencintai bukan pada sembarang orang, tapi kepada Sang Pencipta cinta itu sendiri. Ada satu hadits so sweet yang baru saja kutemukan hari ini ketika mengikuti kajian ‘Pilar-Pilar Pengokoh Nafsiyah Islam‘. Disebutkan bahwa jika seorang hamba telah melaksanakan apa yang diwajibkan Allah kepadanya, lalu diikuti dengan melaksanakan ibadah yang disunahkan, dan bertaqarub kepada Allah dengan perkara yang disunahkan, maka Allah akan mendekat kepadanya dan akan mencintainya. Dalam hadits dari Abu Umamah riwayat ath-Thabrani di dalam Al-Kabir, disebutkan:
“Hamba-Ku yang terus-menerus mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan melaksanakan ibadah sunah, maka pasti Aku akan mencintainya. Maka (jika Aku telah mencintainya), Aku akan menjadi hatinya yang ia berpikir dengannya; Aku akan menjadi lisannya yang ia berbicara dengannya; dan Aku akan menjadi matanya yang ia melihat dengannya. Jika ia berdoa kepada-Ku, maka pasti Aku akan mengabulkannya. Jika ia meminta kepada-Ku, maka pasti Aku akan memberinya. Jika ia meminta pertolongan kepada-Ku, maka Aku pasti akan menolongnya. Ibadah hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah memberikan nasihat”.
Subhanallah… I’m already speechless! :’)
Begitulah kekuatan cinta dari Sang Pemilik Cinta, begitu kuat dan besar! Kita mungkin dapat membandingkan dengan diri manusia yang telah dianugerahi oleh Allah dengan gharizah nauatau naluri berkasih sayang, yaitu ketika kita mencintai seseorang, kita bisa memberikan apapun yang mereka inginkan, agar orang-orang yang kita cintai semakin cinta kepada kita. Itu baru sebatas cinta sesama manusia. Bagaimana dengan kekuatan cinta dari Allah. Ketika kita selalu melaksanakan apa yang  telah diperintahkan-Nya, kemudian kita semakin dekat dengan-Nya, tentu saja Allah akan semakin mencintai kita karena perjuangan cinta kita untuk-Nya. Dan Allah tidak akan melepaskan begitu saja para hambaNya yang besar cintanya untuk Allah. Bahkan ada pula hadits di bawah ini:
‘Dari Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila Allah mencintai hamba, maka Jibril memanggil : “Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah ia”. Maka Jibril mencintainya. Lalu Jibril memanggil penghuni langit: “Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah ia”. Maka penghuni langit mencintainya, kemudian di bumi ia menjadi orang yang diterima”.
(HR. Bukhari, Muslim, Imam Malik, dan Turmudzi)
I’m speechless again :’)
Tak bisa dibayangkan oleh logika manusia yang sangat terbatas dan lemah, Allah swt. akan menyuruh seluruh penghuni langit dan bumi untuk mencintai hamba yang Ia cintai, dan pasti seluruh penghuni langit dan bumi itu akan senantiasa mendoakan kebaikan hamba yang Allah cintai itu. Tentu saja, jumlah penghuni langit dan bumi tidak dapat kita hitung, karena jumlah mereka sangat banyak sekali.
Itulah keagungan dari Sang Pemilik Cinta Sejati. Sebagai seorang Muslim tentunya kita tidak ingin melewatkan berkah cinta dari Sang Pencipta, bukan?! Oleh karena itu, mari kita berlomba-lomba mendapatkan cinta sejati dari-Nya. Ya, itulah cinta sejati sepanjang masa yang tak akan pernah berakhir. Tidak seperti kebanyakan bualan atau gombalan para pejuang cinta dunia.
So, what are we gonna wait for? Let’s be the love chaser, I mean, let’s be His love chaser! Ready?! 😉
Advertisements
Posted in Hadits, Renungan

Allah Sesuai dengan Prasangka Hamba-Nya :)

Allah sesuai dgn prasangka hambaNya

Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas adalah salah satu hadits yang paling banyak kuingat. Bagaimana tidak? Allah swt. memberikan motivasi untuk hamba-Nya agar kita senantiasa berprasangka baik kepada-Nya, karena Allah sesuai dengan prasangka kita. Jadi kalau kita akan atau sedang mengerjakan sesuatu berharaplah bahwa kita akan mampu menyelesaikannya karena Allah pun tidak akan memberi cobaan yang lebih dari kemampuan kita, bukan? Jadi kalau kita punya masalah, jangan anggap masalah itu sesuatu yang besar hingga kita merasa berat. Akhirnya, karena kita menganggap masalah kita itu adalah sesuatu yang berat, kita pun banyak mengeluh dan merasa kesal. Ingat itu adalah prasangkamu, yang berarti Allah pun memberikan sesuatu sesuai dengan prasangkamu itu. Jadi, jika kita sedang mendapat ujian hidup, ingatlah bahwa kita punya Allah, kita pasti akan dengan mudah melewati ujian hidup itu. Insha Allah, Allah pun akan memudahkan semuanya. Nikmat bukan? 🙂 Nah, mulai sekarang cobalah untuk selalu ber-khusnudzan kepada Allah swt. karena segala yang datang dari Allah adalah baik untuk kita.

Kemudian, coba perhatikanlah kata-kata hadits berikutnya, semakin kita mendekatkan diri kita kepada Allah dengan bentuk ketakwaan kita, semakin dekat pula Allah dengan kita, bahkan lebih lagi. Itulah bentuk kecintaan Allah pada hamba-Nya, sangat indah bukan?! Mari kita evaluasi lagi diri kita, sudahkah kita berkhusnudzan pada Allah? Sudahkah kita selalu mengingat Allah, baik di kala senang maupun susah? Sudahkah kita berusaha mendekati Allah? Yuk kita ngaca diri kita 😉

Posted in Hadits, Renungan

Leave It or You’ll Regret!

Hadith of the day:

“Sebagian dari kebaikan keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa saja yang tak berguna baginya.” (HR. at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, Ibn Hibban, al-Baihaqi, dan Malik)

Hadits ini tentunya sangat menampar sekali, bukan hanya saya tetapi mungkin Anda pun begitu. Yup! Ketika kita mengakui bahwa kita menggenggam Islam dalam hidup kita, tentunya kita sudah mengetahui setiap konsekuensi yang harus dijalani. Termasuk untuk meninggalkan perkara yang tidak berguna. Perkara tidak berguna dalam hadits ini adalah setiap apa-apa yang tidak membawa kebaikan bagi hidup kita, termasuk hal-hal haram (tentunya), syubhat, makruh, dan sebagian perkara mubah.

Adalah suatu peringatan bagi kita untuk senantiasa memanfaatkan waktu yang tersisa dalam hal kebaikan. Kita tidak pernah tahu sampai kapan kita hidup di dunia. Siapa tahu, Malaikat Izrail mencabut nyawa kita ketika kita sedang lalai (na’udzubillah). Memang, kadang terasa jenuh melanda pada diri kita. Namun, lagi-lagi hadits ini adalah sebagai peringatan bahwa kita tidak bisa sembarang dalam berbuat atau berucap dalam hal yang tidak berguna. Mungkin kita sering tidak menyadari betapa banyak waktu yang terbuang untuk kesia-siaan. Astaghfirullahal’adziim…

Hadits tersebut memerintahkan kita untuk meninggalkan apa-apa yang tidak berguna bagi kita, baik ucapan maupun perbuatan, karena hal tersebut tidak akan mendatangkan kebaikan dari sisi Allah. Bisa saja itu membuat kita semakin jauh dari Allah, bukan?! Di hari akhir nanti, kita tentu akan sangat menyesali waktu yang kita buang sia-sia. Oleh karena itu, Rasul memperingatkan kita di jauh-jauh hari agar kita tidak menyesal nanti.

Remember, no word ‘LATE’ till we really stop breathing. Allah is The Most Gracious and Most Merciful.