Posted in Catatan

Tiga Sungai Pembersih Dosa

“ALLAH swt telah membuat tiga sungai untuk membersihkan tubuh orang-orang yang berdosa.Jika ketiga sungai tersebut belum cukup maka Allah swt akan membersihkannya di sungai jahannam.

Ketiga sungai tersebut adalah;

Continue reading “Tiga Sungai Pembersih Dosa”

Advertisements
Posted in Catatan

Komunikasi Harmonis dan Efektif Suami-Istri (bag.1)

‪#‎WomenandShariah

Relasi suami-istri bukanlah relasi atasan-bawahan, juga bukan seperti hubungan pemerintah dengan rakyatnya.

Kehidupan suami-istri mesti diliputi rasa cinta dan kasih-sayang. Pergaulan di antara keduanya adalah pergaulan persahabatan.

Keduanya akan saling memberikan kedamaian dan ketenteraman. Allah SWT menjelaskan bahwa ketentuan dasar dalam sebuah perkawinan adalah kedamaian dan dasar dari kehidupan suami-istri adalah ketenteraman(QS ar-Rum [30]:21).

Continue reading “Komunikasi Harmonis dan Efektif Suami-Istri (bag.1)”

Posted in Catatan

Wanita-wanita Ahlul Jannah (bag. 1)

#WomenandShariah

Di kutip dari buku Riyaadhush Shaalihaat hal. 163 Dari Abdullah bin Abbas bahwa Rasulullah Saw telah bersabda :

الا أخبركم بنسائكم من أهل الجنة ؟ الولود، الودود، العؤود على زوجها التى إذا آذت أو أوذيت جاءت حتى تأخذ بيد زوجها ثم تقول و الله لا أذوق عمضا حتى ترضى رواه النسائى “Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian yang menjadi ahlul Jannah?
yaitu al waduud, al waluud , al a’uud pada suaminya, yang jika dia menyakiti atau disakiti dia memegang tangan suaminya seraya berkata: demi Allah, saya tidak bisa tidur sampai engkau ridha”. Mari kita bahas sifat ini satu persatu…
Posted in Catatan

Iman Pondasi Terkuat Membangun Cinta

Kutipan dari Prolog   ‘Sesungguhnya Kita Hamba’

Pernikahan, kata Sayyid Quthb merupakan ikatan paling dalam, paling kuat, dan paling langgeng yang memadukan antar dua anak manusia. Ia meliputi interaksi paling luas yang bisa dilakukan oleh dua orang. Ia adalah ikatan jiwa, keterpautan ruh, perpaduan akal, dan penyatuan jasad. Allah menyebutnya sebagai miitsaqan ghaliizhaa. Ia diposisikan sebagai perjanjian agung yang senama dengan perjanjianNya dengan Nabi-nabi pilihanNya, dan juga perjanjian berat antara Allah dengan Bani Israil sehingga Ia mengangkat Gunung Tursina ke atas mereka.

Oleh itulah, lanjut Sayyid Quthb dalam Fii Zhilaalil Quran, hati mereka harus disatukan dan dipertemukan dalam ikatan yang tak bisa pudar. Supaya hati bisa bersatu maka tujuan ikatan dan arah yang ingin ditempuhnya juga harus satu. Sementara itu, aqidah merupakan hal paling mendalam dan paling komprehensif dalam menyemarakkan jiwa, mempengaruhinya, mengkondisikan perasaan-perasaan, menentukan berbagai reaksi, dan responnya, dan menentukan jalannya di segenap kehidupan.

Continue reading “Iman Pondasi Terkuat Membangun Cinta”

Posted in Catatan

Repost : Untukmu, Untukku

Aku kadang bertanya-tanya pada diri sendiri. Ketika jalan lurus itu sudah terbentang di depan mata, lalu kenapa malah tubuhnya meminta untuk mundur? Padahal hatinya yakin bahwa jalan itu memang lurus menuju tujuan yang selama ini ia inginkan. Kaki-kaki itu hanya tinggal melangkah ke depan menuju masa depan yang pasti cerah sesuai yang ia yakini dalam hatinya. Hanya saja, mengapa godaan jalan di belakang tubuh itu begitu besar sehingga seolah-olah masih ada seutas benang yang belum terputus, ternyata dengan sangat kuat bisa menarik tubuhnya itu. Atau bahkan, kaki-kaki mereka sudah melangkah di jalan yang pasti menyelamatkan dirinya, tapi ternyata benang yang tidak terlihat itu menariknya mundur dan membawanya berjalan di atas jalan yang justru menyesatkan dirinya. Heran, aku heran!

Memang semua itu pilihan! Pilihan saya atau diri Anda sendiri. Anda bebas memilihnya sesuai dengan keyakinan Anda! Tapi bukankah ada sebuah petunjuk yang bisa mengantarkan Anda pada sebuah pilihan yang pasti?! Lalu, mengapa banyak sekali orang yang masih meragukan kebenarannya. Indera manusia dan akal manusia memang terbatas, dan mereka terlalu banyak tertipu oleh pandangan dunia yang kadang cukup memuaskan ego untuk melakukan pembenaran terhadap apa yang mereka yakini. Atau justru mereka menafikan kebenaran itu, untuk mengalihkan perhatiannya kepada yang lain, sesuatu yang membuat mereka terlupa bahkan sengaja dihilangkan hanya untuk memuaskan hasrat terdalam dari jiwanya.

Kadang itu pula yang muncul dalam diri saya sendiri. Bukan karena keragu-raguan atau apalagi ketidakpercayaan. Tetapi terpedaya dalam tipuan itulah justru yang sering kali muncul, diiming-imingi oleh ketidakpastian, didorong oleh hasrat terpendam yang mengikat, dibuai oleh sedapnya pemandangan yang terlihat oleh mata yang sangat terbatas jarak pandangnya. Pemberontakan diri kadang muncul dalam suasana tidak terduga. Bahkan terbesit pula keinginan dalam sisi lain dari jiwa ini, untuk menembus terowongan gelap yang membutakan mata. Astaghfirullahaladzim.

Life is choice! Kata-kata itu begitu terngiang-ngiang dalam lubuk hati terdalam. Pilihan yang sudah kita ambil memang beresiko, pilihan apa pun itu! Apalagi ketika diri ini mengingat bahwa ini memang permintaan dari sebuah jiwa yang kosong tak berisi kepada Sang Maha Pemberi. Lalu, mengapa aku harus membuang pemberian dari-Nya?! Rugi sekali diri ini! Lalu ketika Anda berada dalam ketidakpastian, atau kebimbangan, mengapa Anda tidak meminta padaNya? Bukankah Anda yakin, bahwa Ia akan selalu menolong Anda? Minta saja pada-Nya!

Waktu demi waktu terus berlalu, seiring dengan itu, daun-daun yang layu pun mulai berguguran ke atas tanah, menjadi sesuatu yang busuk, dan akhirnya hancur berkeping-keping terbawa angin. Bagiku, menjadi sebuah daun hijau segar yang tinggal bersama pohon adalah pilihan. Aku tidak mau menjadi daun layu yang kemudian rapuh dan akhirnya membusuk di atas tanah. Ini semua adalah pilihan. Dan aku akan meminta kepada-Nya kembali, agar aku senantiasa menjadi daun hijau segar yang tak akan pernah lepas dari pohonnya sekuat apapun angin berhembus menggoyangkan tubuh sang pohon.

Begitu pula dengan Anda. Pilihlah satu. Tidak pernah ada abu-abu dalam kehidupan ini. Anda harus memilih menjadi putih, atau hitam! Tidak bisa abu-abu! Ingatlah bahwa setiap pilihan akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan-Nya. Melangkahlah secara pasti, jangan pernah takut, karena Ia selalu mengiringi langkah-langkah kecil kita, menghitung berapa banyak jejak-jejak kita di jalan-Nya, dan akhirnya Ia juga yang akan menyediakan tempat peristirahatan bagi kita di ujung jalan-Nya. Mari kita melangkah bersama wahai saudaraku!